Membaca Kejujuran dalam Sebelas Hari Istimewa



Saya adalah orang yang selalu mempertanyakan pada diri saya, untuk apa sebenarnya saya menulis puisi. Sejak 2011, saya tahu bahwa saya hanya ikut-ikutan menulis puisi, hanya sekedar suka belaka sebab saat itu begitu berlimpahnya waktu bagi saya. Jadi saya punya banyak sekali kesempatan untuk sekedar menulis, belum sepenuhnya punya tujuan mengapa saya tertarik menulis, terlebih-lebih menulis puisi.

Setelah menerbitkan buku puisi pertama saya Yusin dan Tenggelamnya Keadilan pada 2014 lalu, hampir 2 tahun saya berhenti menulis karena saya merasa begitu kosong bahasa puisi yang saya tulis. Saya merasa tidak menemukan bahasa baru atau penyampaian tidak biasa dalam puisi-puisi saya baik secara estetik, puitik, kebaruan dan pakem-pakem lainnya dalam puisi. Meskipun demikian, saat itu saya tetap mendapat berbagai apresiasi dari berbagai penyair dengan kata lain menurut mereka saya setidaknya bahwa saya sudah mampu menulis.

Setelah mengalami hal di atas tersebut, saya memperkuat diri dengan memperbanyak bacaan buku dan melakukan studi dengan puisi orang lain sehingga saya akhirnya menerbitkan kembali puisi kedua, Sehelai Daun yang Merindukan Ranting (2016) dengan penuh "catatan" pula bahwa waktu itu bahwa saya masih sekedar ingin menulis bukan kenapa saya harus menulis.

Pada periode 2011 hingga akhir 2018 (artinya sudah 7 tahun saya memberanikan menulis puisi), akhirnya saya menemukan diri saya. Bahwa menulis adalah menyampaikan gagasan, pengalaman, hingga daya intelektual seseorang dalam memvisualkan bahasa. Tidak mudah membuat bahasa yang mengena kepada pembaca jika daya tangkap bahasa kita masih tipis, bahkan terkesan mengada-ada atau tidak masuk dalam logika berpikir.

Namun, dalam puisi-puisi terbaru karya Ratna Ayu Budhiarti berjudul Sebelas Hari Istimewa yang saya baca pagi ini dalam kereta Tawang Jaya menuju Semarang, saya menemukan kejujuran Ratna dalam meyampaikan pemikiran dan daya pikirnya yang luas.

Dalam puisinya, Ratna bukan saja mampu mengolah bahasa, namun juga mengajak semua pembaca untuk hadir dalam puisi-puisinya. Seperti puisi di bawah ini, misalnya, ia tidak malu untuk mengatakan bahwa dia sedang di Eropa dan modalnya hanya keberanian. Hal itu disampaikan Ratna puisi Kalkulator Dan Kurs Rupiah.

Apa yang disampaikan Ratna tentu tidak utuh jika hanya dibaca sepintas, dan tanpa daya nalar bahwa, sesungguhnya apa yang disampaikan Ratna bukan sekedar masalah uang semata, tapi keyakinan dan impian yang telah lama diinginkannya untuk sampai pada satu tujuan.

Untuk melihat bagaimana kejujuran tersebut, berikut saya cantumkan puisinya di bawah ini:

KALKULATOR DAN KURS RUPIAH

Berapa nilai tukar rupiah hari ini?
Aku mau belanja jaket dan oleh-oleh
Apakah uang euro kita masih cukup?
Di sebelah mana ada ATM?

Pertanyaan demi pertanyaan
kita lontarkan bisik-bisik
sambil diam-diam memijit
kalkulator ponsel
biar tak banyak yang tahu
modal kita hanya doa
dan beberapa picis

Di eropa, begitu gesit
kalkulator otak bekerja

Berapa nilai rular kecemasan?
Hari-hari dilalui jauh dari negeri sendiri
Apakah bisa juga menukar cinta
dari Indonesia?

#RAB, 2018-2019

Ada sembilan frame puisi dalam buku terbaru Ratna yakni, Kabar dari Darat, Italia, Austria, Swiss, Jerman, Prancis, Belgia, Belanda dan Sebelas Hari Istimewa. Dalam setiap frame berisi berbagai judul puisi. Semua puisi dalam buku ini menarik, sebab tidak semua orang mampu mengumpulkan berbagai kenangan yang telah lalu dalam ingatannya dan dituang kembali dalam bentuk tulisan yang renyah, dan memiliki kekuatan kuat untuk memberikan keberanian kepada orang lain untuk memulai menulis dengan istiqamah, tekun dan mau belajar.

Saya sengaja tidak membahas semua puisi yang ada dibuku ini, saya juga tidak membahas judul utama puisinya. Sebab, saya ingin siapapun yang ingin menulis, bacalah berbagai puisi yang ada, salah satu buku puisi terbaru Ratna.

Selamat!