Teater Telah Mati



Di luar gedung, seorang anak kecil mendengar keributan hatinya. Kata-kata yang berserak itu, membumbung tinggi, pecah pada mikrofon-mikrofon, dinding-dinding, dan jidat-jidat teater.

"Tiket terlalu mahal. Seorang pengemis yang ingin menonton pertunjukkan, terjebak antara dirinya dan keluarga," katanya.

Dari dalam. Anak-anak orang kaya terus menarikan narasi kemiskinan, penuh warna pelangi yang mereka curi dari langit, bahagia dan membara.

"Tapi mereka tak pernah merasakan hal itu. Kemiskinan itu. Mereka telah berbohong," kata anak tadi, basah dengan hujan dalam matanya.

0 komentar:

Posting Komentar