Kompasiana, Sabtu, 22 Desember 2018




Pidie Jaya

Kubawa namamu dalam setiap derap kaki ini,
ibu yang melahirkan dan kota yang membesarkan.
Meski kau cambuk aku, seolah terusir sekian
jarak waktu, tetap dalam darah ini kau
harum kenanga. Lintas sejarah yang berlayar
di tubuhku. Meski busuk sekalipun,
kau adalah wangi bagi kehidupanku.

Aku terus saja mengingatmu. Merasakan betapa
jauh kau di dekap peluk ini. Sepi dan tergerus
oleh kesendirian. Sendangkan orang-orang
menanak nasi di atas tubuhmu. Tapi kau lapar
dan mencari-cari tempat untuk berteduh
dari banyak kebohongan; rumah gempa,
ladang cokelat yang sekarat, dan waduk jebol
yang belum diselesaikan, tapi para pejabat makin
berpoya-poya ke Jakarta.

Lihatlah. Betapa kurus gunung-gunung kita.
Nelayan menjerit terlilit mesin bot yang mati.
Petani kehabisan nasi di lumbung padi dan
toke-toke berpesta setiap minggu ke Medan.
Membawa jerih payah kita. Setiap minggu,
warung-warung kita kosong. Sebab rumah-
rumah pegawai ada di kabupaten lain.
Tempat yang membuat tubuh kita gigil dan meriang.

Lihatlah lapangan Kota Meuredu.
Kurus dan kering begini.
Sedang pejabat sehat dan muda.

JAKARTA, 2018





Pulang ke Masa Kecil

Di gerbang dadamu,
senja sedang mengamuk.
Kesedihanmu bangkit dari
wajah masa kecil. Buram
dan begitu patah. Kadang,
kau ingin pulang ke masa
kecilmu itu. Kampung halaman
di mana kekecewaan tak punya
harapan untuk tumbuh dalam
dadamu yang bau pagi.

Kau tak pernah berkhayal,
bahwa air terjun rindu telah
membuatmu begitu tenggelam
ke dasarnya. Kau saat ini sering
dibangunkan oleh kicauan rumput
di belakang rumah. Di mana orang-
orang dari jauh mengusir dingin
dengan kayu bakar kekhawatiran.

Kau memang takut. Tapi bisa
Kauhapus dalam beberapa tahun kemudian.
Kecuali kekecewaan yang menjalar di
tubuhmu saat ini; begitu tajam dan dengan
secara kasar seolah mengatakan,
kau lebih baik menorehkan pisau
ke leher sendiri. Sebab sudah
tak lagi dirindukan.

Kesiur angin membaca
kekecewaanmu. Maka dia terus
menamparmu dengan kabar-kabar
baik. Bahwa, kata dia, hidup
adalah guguran daun. Siapa saja bisa
terhempas ke tanah. Layu dan
terabaikan. Tapi, dia melanjutkan,
setelah kau berhasil memerangi dirimu
sendiri, mengapa kalah hanya dengan
sebuah kekecewaan?

Kau pun tertawa, dan, sedetik
kemudian, kau melumat semua
nyeri itu dengan meninggalkan
kekecewaanmu. Persis seperti
gugur daun;tapi kau tak terhempas
ke tanah, namun ke langit. Biru dan
begitu laut seperti luas dadamu. Dan
kau pun berlayar ke muara
masa depan.

JAKARTA, 2018

0 Comments: