Jejak Hang Tuah di Kepulauan Riau: Dermaga Penyegat

Saya berfoto di depan gapura Selamat Datang Dermaga Penyengat, Kamis, 28 November 2018.


Waktu menunjukkan pukul 11.20 saat kami diantar ke pusat kota oleh supir Datok Haji Rida K Liamsi. Kami sengaja mau berleha-leha terlebih dulu di pusat kota sebab acara baru dibuka nanti malam, setelah isya di Kompleks Purna MTQ.

"Tidak ada jadwal jalan-jalan ke kota. Sebaiknya sekarang," kata Pak Rida siang itu.

Di hotel, baru kami berempat saja yang tiba. Jadi kami akhirnya memutuskan untuk pergi karena ini adalah momen langka. Apalagi, saya sendiri sudah terlanjur beli tiket PP. Begitu pula dengan teman-teman lainnya. Jadi tidak bisa menunda kepulangan.

Di belakang, suara Ade Novi menjerit, "Ikut-ikut," kata dia, kemudian masuk ke dalam mobil dan, mobil pun melaju membelah jalan-jalan di ke arah kota.

"Melihat geografis jalan-jalan di sini, saya teringat sabang, karena hampir sama daerahnya. Jalanannya penuh tanjakan di sana sini," kata saya kepada kawan-kawan.

Tapi, sang supir malah bertanya, "Sabang itu di mana, ya?"

Lantas saya pun menerangkan. Sabang itu adanya juga di Sumatera. Paling ujung Provinsi Aceh. Di sana, kata saya, juga ada pelabuhan. Di mana mobil-mobil dan motor dari luar negeri berhamburan di pusat-pusat kota. Anak-anak muda di sana mengendari mobil sekelas BMW, Mercedez-Benz, Ford, Jaguar, bahkan Ferrari!

"Kalau sempat main ke Sabang, mobil sekelas Jaguar dan mobil mewah lainnya boleh disewa seharga Rp. 200 saja," ujar saya.

"Saya baru tahu kalau Sabang di Aceh," kata supir itu sambil memacu mobil ke arah Pelabuhan Penyengat.

"Bang, saya berhenti di kantor Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan, ya. Tahu, kan?" tanya Pringadi.

Dia berhenti di sana untuk bertemu temannya, sekaligus mau meminjam motor karena kami punya jadwal lain dengan memanfaatkan waktu untuk pergi ke Dompak, Tanjung Siambang. "Katanya, pasir putih di sana bagus. Lautnya juga biru," ujar Pringadi sebelumnya lewat pesan Whatsapp.

Sampai di pelabuhan, saya, pak Bambang Widiadmomko dan Ade Novi langsung menyusuri jalananan di sekitar Pelabuhan Penyengat. "Saya sudah pernah ke sini, satu Minggu dalam sebuah kegiatan," kata Pak Bambang.

Lantas, kami diajak menuju gapura yang bertuliskan Selamat Datang Dermaga Penyegat. Warna khas Malayu, kuning dan hijau ditambah cokelat terlihat gapura itu gagah terpacak.

"Kita makan dulu sambil menunggu Pringadi," kata saya kemudian.

Kebetulan, di dekat gapura itu ada warung makan yang baru saja mengangkat berbagai menu sayuran dari kompor. Jadi saat itu nasi dan segala lauk masih panas. Asap merebak dalam warung. Aroma khas bumbu Melayu menabrak-nabrak perut.

"Kita selesai makan, baru nanti Prungadi sampai," ujar Ade Novi. Ia tampak lahap. Pak Bambang Widiadmoko juga terlihat khusuk dan serius melahap makanan. Maklum saja, rupanya pukul menunjukkan 12.00 WIB. Pantas kami lapar!

Apa yang disebutkan Ade Novi benar saja. Berselang beberapa menit. Pringadi sampai. Dia langsung memesan makanan dengan porsi paling jumbo. "Lapar, bro!" kata Pringadi.

Usai makan, kami berjalan ke arah dermaga. Melihat ke dalam dermaga seolah melihat dalam diri sendiri. Dermaga yang akan membawa kita ke pulau Penyengat itu tampak sepi. Kapal-kapal tidak ada yang bersandar. Laut dipenuhi dengan sampah botol air meneral. Bubuk kayu, dan tumpukan plastik, bergerombol seolah ikan-ikan berenang.

"Kurang dirawat ya," kata saya kepada Pringadi.

Sewaktu berbalik ke tempat awal kami masuk, saya sempat memotret sebuah bingkai lukisan Datok Haji Rida K Liamsi tengah bersandar di meja. Sedang di sampingnya, senyum lebar Dahlan Iskan seolah menepis pikiran saya bahwa dermaga ini kesepian. "Mungkin jadwal berangkat bukan pada saat ini, makanya sepi. Atau sudah berangkat pas aku sampai," kata saya pada diri sendiri.

Sebagai pelepas rasa penasaran itu. Kami kembali menyusuri jalan-jalan di seputar Dermaga Penyemangat dan berhenti di salah saru warung kopi tradisional di sana. Kami memesan kopi. Makanan-makanan kecil dihantar ke meja.

Di warung itu. Orang-orang tampak serius memgobrol satu sama lain. Hanya beberapa anak muda saja yang sibuk dengan ponsel masinh-masing.

Sebelum beranjak pergi, saya dan pak Bambang meninggalkan warung itu sebentar untuk mencari rokok lokal Tanjung Pinang yang katanya dijual hanya Rp. 7000 /bungkus. "Rokok ini tidak berbandrol dan hanya dijual di sini saja," kata Pak Bambang yang sudah duluan pernah membeli.

Benar saja. Saat tiba di sebuah warung, rokok-rokok dikeluarkan. Paling mahal Rp. 12.000 saja. Saya wakru itu membeli lima bungkus. Pak Bambang juga lima bungkus. Kami keluar dari warung itu sambil tertawa.

"Benar kan kata saya," ujar Pak Bambang seolah begitu bahagia karena membuktikan apa yang dia ucapkan sendiri.

Bersambung ...

0 komentar:

Posting Komentar