Sastra Harian Cakrawala edisi Sabtu, 4 Oktober 2014,



Rindu Adalah Kelopak Mawar

Angin adalah buah bibir yang mengatup sunyi, 
mengajarkannya berbicara pada kepergian 
Lindap yang tak lagi ada dalam matamu,

seperti seberkas harap yang dibawa kapal 
lalu menyeberang ingatanku
Dan pulau-pulau adalah kabut dalam deru pikiranku.

Kita bertemu di antara dua keadaan;
laut yang paling gelap, sunyi yang paling pengap
Meluruhkan rindu yang tumbuh menyesakkan mata

Butir-butir yang hilang adalah kenangan
sebagai tangga di mana menuju puncak tubuhmu,
lalu melafalkan luka dan kepedihan

Di sini, rindu adalah kelopak mawar
harum yang terbang ke setiap ruang ingatmu
walau menyentuhnya adalah sebuah impian dan ketiadaan

Waru, 2014



Hendak Diam Dipangkal Lidah

Kepada hutan kita lepas;
seperti burung yang tak mengenal tuan dan rumah,
renyuh di antara tubuh yang rubuh,
dan hendak yang diam dipangkal lidah.

kepada saf-saf ingin kita pergi
sekedar tak lupa masih ada janji
yang terus saja terbaikan
yang masih terus kita lupakan

sebab waktu yang tajam
telah mengambil masa lalu kita
dijadikannya bahan tertawaan
sebelum akhirnya kalah di batas malam

Waru, 2014


Ke Rindu Yang Pernah Kusesap

Apalagi yang kurang
semua teluh telah sampai
kepada angin aku berdiri, 
menghitung waktu yang belum mati
yang seakan ada di mulutku dan ingin keluar, lalu berkata,
di atas, aku telah sampai ke pucuk,
ke rindu yang pernah kusesap, 
ke ranah yang paling jauh, ke muara yang gelap, 
dan dalam matamu yang sembab.

Waru, 2014