Mawar untuk Dua Lelaki


Hari ini aku senang sekali. Bagaimana tidak? Aku sebentar lagi akan duduk di bangku SMP di desaku. Wah. Padahal baru saja kemarin aku main petak umpet sama teman-teman. Main apung-apungan. Bahkan diajak seorang teman lelaki untuk mengejar layang-layang. Tak pernah aku merasakan lelah mengejar layang itu hingga aku merasakan sendiri seperti apa panas, lelah, dan tentunya bahagia saat layang yang aku kejar sama Ardy itu bisa aku dapatkan dengan tanganku sendiri.

“Dara. Jelek kali kau pas merebut tali layang,” kata Ardy. Teman lelaki yang setiap hari, sepulang sekolah, sering main layang di lapangan depan rumah.

Aku hanya tersenyum saat Ardy berkata seperti itu. Aku lebih menganggapnya marah lantaran aku yang mendapatkan layang kejaran kami. Padahal, setiap hari, Ardy tak pernah bisa dikalahkan oleh teman-teman lain. Selalu dia yang mendapatkan layang itu. Larinya kencang betul!

“Tumben aku kalah dengan kau. Perempuan yang manis.” Godanya.

“Sini layangnya. Kita naikkan yuk di lapangan.” Ajak Ardy. Aku hanya mengiyakan ajakan dia.

Seharian itu, sepulang sekolah, aku dan Ardy asik menaikkan layang. Ardy mengajariku mengulur dan menarik benang layang hingga jari manis dan jempolku ada yang terluka terkena benangnya.

“Aduh!” jeritku.

“Ah. Cengeng!” kata Ardy lalu memasukkan jari manisku dalam mulutnya.

“Untuk apa begitu?” tanyaku heran.

“Ya biar darahnya berhentilah!” kata Ardy.

Setelah itu, di hari-hari berikutnya, aku kerap main sama Ardy. Tidak saja main layang. Bahkan kami mengejar kupu-kupu dengan tangkupan plastik yang diberi kayu lurus panjang. Mencakup kupu-kupu itu ke dalamnya. Ardy yang membuatkan aku tangkapan kupu-kupu itu.

Sampai suatu hari, aku tak melihat lagi Ardy sering main layang di lapangan depan rumah. Tak juga bertemu dengannya di tempat ngaji, atau di sebuah danau yang sering menjadi tempat yang paling setia ia kunjungi. Padahal, saat itu aku tahu bahwa, di antara teman-temanku, hanya Ardy yang bisa mengajariku banyak hal.

“Keluarga Ardy sudah pindah.” Begitu kata salah satu tetangganya saat aku menyempatkan diri untuk menanyakan keberadaan Ardy.

“Pindah kemana, Nek?” tanyaku pada seorang nenek tua yang sedang menyapu halaman rumahnya.

“Saya tak tahu, Nak,” jawabnya tanpa menoleh ke arahku.

Dengan berat hati. Kutinggalkan tempat itu. Dan entah sampai kapan, Ardy akan selalu kukenang dalam ingatanku sebagai seorang teman. Barangkali juga seorang guru. Ah. Pantaskah Ardy kusebut guru?

***

Pagi itu begitu cerah. Banyak orang-orang yang kulihat sedang mengobrol dan minum kopi di salah satu warung dekat lapangan di depan rumahku. Aku mengeluarkan sepeda merah jambu pemberian ayah. Juga tas kuning yang baru dibelikan kemarin sore. Dan sekarang, aku tak perlu lagi menyangkut tas di bahu saat mendayung sepeda, karena mulai sekarang, tas yang masih harum toko itu,  akan kutaruh dalam keranjang mungil yang ada di atas ban sepeda.  

“Ma. Dara pergi ya. Assalamualaikum.” Aku mulai mengkayuh sepeda baru itu. 

Beberapa teman sekolah dasar yang kebetulan satu SMP, melihatku dengan iri. Aku sebenarnya tak ingin naik sepeda. Tapi ayah sudah terlanjur membelinya. Mau tak mau aku harus menaiki sepeda itu. Walau sebenarnya lebih enak jalan kaki, atau naik angkutan umum menuju sekolah. Atau pun berjalan sambil membicarakan pelajaran apa yang paling susah di sekolah baruku itu.

“Enak kali si Dara. Di belikan sepeda sama ayahnya.” begitu aku dengar ucapan salah satu teman lain yang hanya memakai sendal jepit ke sekolah.

“Kan ayah nya pejabat. Ya wajarlah. Lagian, di sekolah dasar dulu, Dara sering dapat nilai bagus dan juara kelas. Bisa jadi itu hadiah dari ayah dan mamanya.”

Kudengar juga teman lain seolah membelaku.

Aku senang, bahkan ingin bergabung membicarakan banyak hal di tengah-tengah mereka. Apalagi mengenai pelajaran baru yang baru aku pelajari dari wali kelas. Tapi niatku tak kesampaian. Karena saat aku melangkah mendekati teman-teman, di depan gerbang kulihat sosok Ardy sedang berlari.

“Ardy, Ardy!” teriakku hingga teman-teman yang tadi sedang mengobrol, sontak kaget karena tahu aku telah berdiri dan menguping pembicaraan mereka.

Aku melompat dua undakan tangga di depanku. Berlari menuju gerbang. Saat sampai di sana, aku masih bisa melihat punggung Ardy.

“Ardy, Ardy!” aku lagi-lagi menjerit berharap Ardy berpaling. 

Masya Allah! Ardy berpaling. Melihatku dari kejauhan. Lalu, tanpa memperdulikan bel sekolah yang telah berbunyi, kususul Ardy. Ia terlihat berhenti dan menunggu. Tanpa pakaian sekolah! Kenapa?

Aku terus berlari hingga kakiku lelah. Saat berhenti di sebuah simpang, Ardy telah mematung di sana. Juga ramai sekali orang-orang yang sedang ribut-ribut.

“Ardy. Kau kemana saja?” tanyaku saat mataku bertemu dengan matanya.

Ardy diam. Matanya masih lurus pada kerumunan orang di depan kami. Aku tak tahu ada apa sebenarnya. Yang kutahu, Ardy ada di hadapanku. Dan sekarang ingin kutanyakan banyak hal padanya. Kemana ia pergi, berapa layang yang sudah dikoleksinya hari ini, atau kunang-kunang, atau sungai-sungai.

Saat bibirku sudah hampir terbuka. Kulihat kerumunan orang di hadapan kami berlari kucar-kacir berhamburan ke sisi jalan lain. Orang-orang jualan sayur, kopi, makanan ternak, terlihat tergesa menutup toko mereka.

“Lari! Lari!” kudengar suara itu memecah di udara.

“Dara! Lari!” tiba-tiba tangan Ardy menggandengku. Aku ditariknya menjauh dari kerumunan orang-orang.

“Tunggu!” kataku.

“Ada Ayah di sana, Ardy. Ayah!” Aku berlari menuju Ayah di balik kerumunan orang.

“Kau mau mati? Tak dengar suara peluru?” Ardy mencegatku. Aku menangis sejadi-jadinya.

“Lepas Ardy, lepas. Aku mau ke tempat ayah!” bentakku. Tapi cengkeraman Ardy begitu kuat. 

Aku tak bisa melawan. Ardy menarikku menjauh dari kerumunan orang-orang itu. Sedetik kemudian, tubuh ayah hilang di antara kerumunan.

“Kamu harus kembali ke sekolah,” ujar Ardy. Saat itu, aku sudah ketakukan.

Aku memang sering mendengar desing peluru di kampungku. Tapi tak seperti saat bersama Ardy. Begitu dekat dan nyata. Beberapa tubuh yang memakai pakaian putih, telah ternoda dengan warna darah. Aku takut! Aku takut! Dan ayah ada di sana. Ya Allah!

Ardy mengantarku sampai di gerbang sekolah dengan buraian air mata.

“Berdoa saja. Bahwa yang kau lihat bukan ayahmu.” Ardy menenangkanku.

Di gerbang sekolah, Bu guru serta murid lain semua terlihat ketakutan. Suara ledakan dari moncong senjata masih terdengar.

“Kau kemana saja, Nak?” tanya kepala sekola gusar.

“Kau tak tahu di luar sana sedang ribut? Dan siapa lelaki yang mengantarmu tadi?” aku tak bisa menjawab. Saat membalikkan badan, tak kutemukan lagi Ardy di sana. Dan kami, yang baru hari pertama masuk sekolah, semua disuruh pulang oleh guru-guru kami.

***
Hari ini banyak teman-teman sekolah yang datang ke rumah. Mereka semua mengatakan padaku untuk tabah, kuat, dan menerima cobaan dari Allah Swt. Dan setelah aku kehilangan Ardy untuk kedua kali, aku juga telah kehilangan Ayah. Air mataku sudah kering. Aku dan Mama hanya bisa menahan isak di hadapan tubuh ayah yang tak lagi bernyawa. Teman-teman lain juga terlihat murung. Hatinya mereka berdebar.

“Kejadiannya di mana?” sayup-sayup kudengar orang mengobrol di depan rumah nenek. 

“Itu di Simpang KKA,” ujar orang lain.

“Bang Thalib, Murtala, Pak Zainal, Bang Uma,” kudengar lagi orang-orang itu menyebut nama-nama orang yang menurut mereka meninggal dunia.

“Semua kebetulan lagi pulang kerja. Tapi berondongan senjata dari Aparat TNI yang sedang menghentikan para pendemo membunuh mereka!” kata orang lain dengan nada marah.

“Iya. Termasuk ayah si Dara itu!” ucap suara lain.

Aku langsung sadar dan ingat. Memang benar saat bersama Ardy aku melihat Ayah dalam kerumunan orang-orang itu.

Setelah di mandikan, kucium aroma ruangan tengah rumah nenek begitu harum. Adakah itu aroma dari tubuh ayah? Aroma yang membawa aku kembali pada saat ayah masih ada. Terakhir, kutanya pada ibu tentang aroma itu. Kata ibu itu aroma kasturi. Dan aku tak tahu apa maknanya. 

Kami ke luar dari rumah. Kerenda warna hijau rumput itu, telah dimasukkan tubuh ayah. Orang-orang berjalan beriringan. Tiga di kiri, tiga di kanan. Sedang aku dan ibu, berjalan dengan lemah di belakangnya.

Aku hanya bisa diam saat pagar kuburan mulai tampak di mataku. Ibu, dengan selendang putihnya, terlihat tegar dan kuat. 

“Nenek pernah berpesan pada Mama,” ucapnya sambil memelukku.

“Sebuah kepergian tak perlu ditangisi. Karena jika kita menangis, orang yang meninggal akan tersiksa.”

Aku kembali terdiam dan melihat tubuh ayah sudah ditimbun tanah. Saat orang-orang mulai pergi meninggalkannya aku dan Mama, kulemparkan sepucuk mawar di atas kuburannya. Aku berharap mawar itu akan menjadi temannya. Dan aku berjanji, setelah hari ini, aku akan kembali lagi untuk memberi ayah sepucuk mawar yang kupetik dari buah tangannya sendiri. Aku yakin. Mawar itu akan tumbuh dan menjaga ayah di tempat barunya. Mawar itu setidaknya dalam pikirku akan menjadi tempat yang teduh bagi ayah. Sebuah surga.

Orang-orang telah pulang saat itu. Aku dan ibu masih  berdiri mematung di depan kuburan ayah yang masih basah. Saat membalikkan badan hendak keluar dari area perkuburan, kulihat iring-iringan kerenda lain masuk ke pemakaman. Pertama-tama aku melihat Fahril anak Pak Thalib, di belakang ada adiknya Bang Murtala, terus keluarga Pak Zainal, dan juga istri Bang Uma. Mereka semua dirunduk dalam kesedihan sambil membawa kerenda kerabat, anak, suami, bahkan adik-adik mereka.

Lamat-lamat, dari jauh aku melihat salah satu kerenda lagi. Dan setelah aku memperhatikan dengan baik-baik, aku tidak mengenal satu pun keluarga terakhir itu. Entah di desak rasa penasaran, aku mendekat saat kerenda terakhir itu berpapasan dengan kami.

Aku menarik salah satu anak yang kira-kira sebaya denganku. Ia memakai peci lancip hitam dan baju warna putih yang selaras dengan celananya. Saat kutanya anak itu menjawab; yang di dalam kerenda adalah anaknya Pak Hamid.

“Siapa namanya?” tanyaku teringat akan Ardy.

“Muhammad Ardy,” jawabnya.*


Buletin Mantra Edisi 2, September 2014 

0 Comments: