Biografi Perlawanan


Saya tidak kenal dengan Saifullah S (kecuali di dari dunia maya), tapi saya mengenal dengan baik Fadjoel Rachman–kami berteman. Keduanya menulis puisi yang rasanya ada di jalur yang sama, jalur di mana kemerdekaan itu kini diambil–kematian pada kisah puisi pendek Saifullah S, tentang sebuah keluarga, apabila kita melihat identitas penyairnya, besar kemungkinan cerita itu adalah kisah hidupnya sendiri, atau cerita dari manusia sebangsanya-Aceh itu. Jadi puisi kini datang dari dunia nyata, bukan semata imajinasi penyair. Fadjroel juga, menulis puisi dari riwayat hidupnya sendiri, bukan kematian tapi diambilnya kebebasan diri sebagai individu–ia masuk penjara di Zaman Orde Baru itu, seperti masih di era yang sama, DOM, (mungkin) adalah latar dari puisi pendek Saifullah–Anak-Anak Hujan.
Fadjroel menulis buku puisi, Catatan Bawah Tanah. Sekedar menghayati tema sentral kedua penyair, ada baiknya juga saya turunkan catatan Mulya Lubis di buku Fadjroel. 
Mulya Lubis "Tetapi penyair tetaplah penyair, di mana pun, apalagi di dalam penjara. Kesepian dan keputusasaan sering datang merayap-rayap dari rumah ke rumah, dari penjara ke penjara. Orang-orang menjadi sangat manusiawi menyadari kesendiriannya di tengah rentangan waktu yang maha luas. Tiba-tiba kita merasa tidak berarti, walau sesaat kemudian kita terbangun dan amarah baru bangkit kembali. Sajaknya, 'We Are All Brothers' melukiskan kesendiriannya yang sangat human."
Todung mengutip bagian dari sajak dua halaman itu, "Aku sama seperti kalian, pernah menangis dan putus-asa, pernah kecewa dan kehilangan, pernah ragu-ragu dan kesepian, dan selalu saja berkelahi dengan diriku sendiri agar terlepas dari perbudakan berhala-berhala kekuasaan kini, masa lampau dan di masa depan."
Itulah suara orang dari dalam penjara, suara penyair yang berimpit dengan suara aku-lirik ciptaan penyair. Sebenarnya, seandainya kita bermain–main agak sedikit dengan kata ini, yakni penjara dengan memberinya perluasan, mengembangkannya tapi tidak dalam ikatan maknanya, maka dunia ini sendiri adalah penjara tanpa batas-batasnya - batas yang mewujud dalam suara pilu Fadjdroel di balik terali besi - penjara Kebon Waru, tempat puisi itu ditulis. Penjara yang menukar dirinya jadi kenangan, pada Saifullah. 
Jadi "waktu maha luas" yang dikatakan Todung, kini telah menempati rumah barunya, tidak maha luas lagi tapi mengecil–ke tubuh yang diisolasi, ke kenangan yang tak pernah mau pergi. Itulah kemahaluasan dari waktu yang memendek, tapi memanjang dalam ingatan. Apakah yang menarik, atau apakah yang bisa diperbandingkan (semoga perbandingan satu puisi dengan buku puisi ini bukanlah perbandingan yang timpang), dari kerja kreatif dua penyair? Adalah terenggutnya manusia dari kehidupan, dunia terenggut, pada Fadjroel, secara metode saya memiliki kesempatan yang lebih luas andai harus mengambil puisinya–tapi tidak untuk Saifullah karena saya telah memilih puisi Anak-Anak Hujan.
Puisi yang kental dengan karakteristik tanda, metafor, itulah Anak-Anak Hujan, kita mengisap "tanda" di puisi ini, yang tergelar berlapis-lapis dan semuanya membawakan "hujan" serta kemungkinan yang ditimbulkan oleh hujan, sebagai tanda. Hal yang terbalik yang ditulis Fadjroel, pada puisi kedua yaitu Sketsa Penjara Dua, anak judul puisi ini yang menggoda, saat penyair meletakkan dunia pahit dalam bentuk doa: Doa Manis Buat Tuhan.
Mula-mula kita menemui jarak yang terbalik arahnya pada Anak-Anak Hujan dan Sketsa Penjara Dua. Anak-anak Hujan menceritakan seorang aku yang "di luar", jadi badannya tidak terkurung seperti Sketsa Dalam Penjara Dua. Realitasnya "di dalam" itu menghampirinya, walau tubuhnya "di luar". Lewat kenangan, di dalam itu terus-menerus datang ke luar. 
"Di luar dingin."
Begitulah puisi Anak-Anak Hujan memulai perjalanan batinnya, mengambil ruang yang kini telah dibentukkan jadi tanda. "Di luar" itu memiliki karakterisitik tanda karena "luar" itu adalah kiasan bagi dalam jiwanya. Ia membalik ke dalam, seperti dibalikkannya arah "doa" dalam bentukan ironis itu: Doa Manis Buat Tuhan, karena Tuhan digugat dalam puisi itu. Tuhan yang digugat dengan cara bahasa, adalah puisi, dengan mengguyurNya lewat kepahitan yang dikatakan lewat keadaan baik tapi sebenarnya protes. Puisi ini membawakan haru kepada kita, karena ilustrasinya akan kehidupan penjara. Lagi-lagi demokrasi itu bekerja di sini, aku tak bermain sendiri, tapi berbagi, dibagikannya isi hatinya, dihidupkannya dunia benda-benda agar mau pula mengambil isi hatinya. Tubuh mekar dan ia menjadi tanaman dalam sel.
"Tuhan, turunkanlah hujan untuk bayam, tomat dan sawi kurus yang kami tanam"
Itulah "Doa Manis Buat Tuhan", tampak di permukaan, dunia indah karena itu adalah doa, tapi kita tahu betapa tanaman itu telah diberi predikat "kurus", seolah tubuh yang perutnya terlipat ke dasarnya, kata baris puisi ini, di stanzanya, nasib atau kabar bagi orang di dalam penjara - kurang makan, atau makan dengan gizi awut-awutan. Kalau kita tadi di atas berbicara "tidak ada tanda di sini", maka itu semacam, katakanlah bermain retorika tulisan sebab, tanda begitu mengambang andai kita menerobosnya dengan cara membaca terbalik kalimat-kalimat yang dipasang Fadjroel. 
Bahwa "kurus" lalu menjadi "orang yang kalah", tomat, bayam, jadi unsur penting dalam hidup - kita dihidupkan oleh makanan yang masuk, tapi makanan ini telah dicegah lewat atribut "kurus" itu. Mulailah rasa haru, saat penyair dengan kepedihan yang telah ditransendirkan menyapa Dia lewat kata "turunkanlah", yang mengibas ke mana-mana, sebagai warta dari wahyu yang turun dari langit: kami turunkan wahyu padamu; sebagai adam dan hawa turun setelah terusir dari langit: kami ampuni kamu; "turunlah/turunkanlah" itu kini, atau di sini, telah melayap menjadi tanda: ia bukan lagi sebuah ucapan yang bergerak lurus: doa dari harapan manusia di mana tubuhnya diikat ke terali besi, menanam sayuran sebagai kegiatan rutin agar jiwa tidak mati - konon kita melakukan apa saja agar terus bertahan hidup dalam penjara. tapi adalah tanda, yang dipasang dengan manis sebagai doa, yang sebenarnya adalah jarum tajam yang ditusukkan penyair ke langit.
Pada Sketsa Penjara Dua kita melihat metafor itu bekerja bukan dalam pengertian kata satu bergerak ke kata lain dan terbentuklah persamaan, tapi dalam uraianlah metafor itu bekerja, sehingga kita pembaca yang musti mengeluarkannya dari dalam bahasa, menangkapnya, untuk kita bingkaikan bahwa itulah "perlawanan" dari seseorang, kepada Nasibnya. Sebaliknya tanda itu melipat semua uraian dan kini tergelar ke dalam kata kunci seperti "hujan", dalam bentukan "anak-anak hujan", muasal tanda itu terbentuk karena "anak-anak" membawa kita langsung kepada, kebalikan dari snapshot penjara yang teramat jelas, tapi "anak-anak hujan" cepat sekali bergerak ke arah "anak-anak manusia" dengan "hujan" yang mungkin bergerak ganda, sebagai ciri tanda itu, adalah, mengapuskan jejak "anak-anak manusia", atau kebalikannya, menumbuhkan jejak dari "manusia kecil" yang sama. 
Ia memendamkan ketidakberdayaan, kata "anak-anak" itu, sedang "hujan" membawa pelbagai ihwal yang mungkin, dengan arah yang ia titipkan pada perkembangan baris di dalam "anak-anak hujan". Tapi "anak-anak" itu membawa juga kabar bagi "putik" yang mau tumbuh, mestinya tumbuh, tapi ia keburu diapus oleh "hujan". (hujan peluru misalnya, haruslah kita bayangkan secara metafora imajinatif di sini. hujan peluru yang menghabisi ayah, ibu, dan kakak atau adik si aku. atau hujan bom? kalau begitu peluru telah membiak jadi bom. atau hujan api? maka gerakan peluru itu rupanya tak hendak berhenti: terus, ia membiak, dari langit membawa doa manis kepada manusia di bumi. maaf saya balikkan doamu itu bung fadjroel.)
Betapa metafora itu membawakan imajinasi pada dirinya. Bahwa alam tak berucap apapun tanpa manusia yang menyadari, sebaliknya manusia ini, hendak apakah ia, tanpa latarnya - hal ini terbaca jadi ironis saat keadaan berputar: hendak apakah kekuasaan itu tanpa manusia yang akan dilindasnya - bahkan sampai mati. Segera "anak-anak" itu membawakan kita ingatan pada manusia, sebelum "hujan" itu menggandengnya, sehingga di mata kesadaran kita kini terbentang: manusia menjadi hujan. Inilah perluasan dari metafora ke imajinasi, perluasan yang tak tertahan, walau kelak perlahan-lahan, isi puisi itu menariknya - ia tak menjadi seekstrem saat metafora itu menghasilkan imajinasi murni, dalam bentukan namanya adalah "anak-anak hujan".
Saifullah dengan bentukan seperti itu, mempermainkan persepsi kita dengan jalan memperlihatkan dua dunia, dunia bawah yakni anak anak manusia, yang dibawanya naik menjadi dunia atas dan kini kita melihat dunia hujan yang telah mengubah dirinya: tak kita lihat lagi di langit itu anak-anak air, karena telah ditukar penyair menjadi anak anak manusia, di langit itu. bila hujan membawa anak anak airnya ke mana mana, maka di langit yang sama anak anak manusia itu melayang layang, ditiup angin nasib, ke mana mana, seolah anak anak hujan di cakrawala.
Mereka akan jatuh ke bumi juga - ajaib ia dinaikkan lagi oleh saifullah ke langit di barisnya, ditahan di sini. tapi hukum daya tarik membuat nasibnya jadi anak anak yang jatuh. bumi selalu menerima tiap apa yang jatuh ke tubuhnya. adalah isi puisi itu yang kini menjadi bumi, menerima anak anak air, anak anak manusia, yang jatuh ke dalamnya, mengolahnya sebagai baris baris mengembang dari jatuhnya anak anak hujan - dari kejatuhan hujan imajinatif yang menjadi kejatuhan anak anak manusia. puisi menatahnya. kini kita pembaca boleh bergerak ke sini, setelah disentakkan secara metafora imajinatif oleh penyair.
Seandainya kita dengan cepat mengeluarkan isi puisi saifullah lalu membentukkan lewat metafor yang lain - selalu keberhasilan penyair menghaluskan dirinya lewat metafor akan mengundang pembacaan yang tergerak memainkan dirinya secara metaforik, seandainya, isi puisi itu adalah dunia panas maka kata dingin itu kini telah mengubah arti: ia bukan neraka tapi surga - oleh api neraka itu panas sedang surga yang bersifat sejuk, oleh ia membawa kandungan air dan sifat air inilah "dingin".
Jadi keadaan air anak hujan yang jatuh itu segera menjadi deklarasi - DOM air api itu kini di-dingin-kan oleh penyair dalam ingatannya yang sudah terlalu panas itu - ibu mati, ayah mati, adik adik mati, apakah ada selain neraka sepanas ini? tubuh tak kuat, ia memerlukan airnya, setelah ia mengapungkan air nasib itu ke cakrawala. kini turun dan membentuk hujannya yang kedua. itulah baris pertama saifullah: di luar dingin. kita memerlukan surga itu oleh di neraka panasnya bukan main.
Ada psikologi tanda yang bermain di dalam metafora yang berhasil itu. Keadaan dalam manusia yang ia tahan tapi kini, tak tertahan lagi meletus keluar, tapi tanda terus menerus bekerja, menangani psikologi dalam manusia itu ke alurnya - ke alur tanda yang membentuk rantai kata, menjadi dunia yang bisa kita tandai - puisi itu sendiri mula mulanya telah menandai dirinya lewat serangkaian tanda yang tak habis-habisnya kita tafsirkan. 
Begitu rupa anak anak hujan itu meletuskan dalamnya sehingga kita melihat ke mana saja ia ditarik, ia menolak, dengan mengubah wajahnya ke arah lain. ia tak ingin dijinakkan oleh satu arah mata yang memandangnya. kita mengira "di luar dingin" adalah sebuah pernyataan, akan kedamaian yang dibawa oleh sifat air - bumi yang tandus jadi basah oleh kata penyair: di luar dingin. di bumi khatulistiwa ini mestinya damai karena hati manusia yang panas itu dingin - orang tak saling mengadukan.
Orang tak juga saling meneriakkan, karena dingin. tapi segera apa yang dingin ini menjadi strategi teks puisi saat penyair mulai berjalan lewat alur tanda-nya. di dalam itu kini bekerja dua keadaan: dingin ditindih oleh panas, panas didinginkan terus oleh sifat air - hujan, kata saifullah, akan sifat air yang mendinginkan keadaan hatinya yang terus mengenang. Dunia panas yang kita imajinasikan, sebab penyair menyimpannya rapat-rapat ke dalam bahasa, di dalam bahasa.


Saifullah S
Anak-anak Hujan

12 Maret 2014 pukul 21:22

Anak-anak Hujan
Oleh Pilo Poly

Di luar dingin. Anak-anak hujan belum ingin pulang ke langit. Ia masih ingin menyenangkan hatiku. Aku tahu, dengan hujan yang turun dan pecah di jendela kaca, aku bisa melukis wajah ibu, ayah, dan adik-adikku yang telah pergi. Orang-orang bilang, saat aku masih bersekolah, rumah kami dibakar orang tak dikenal. Seluruh keluargaku beku di dalamnya. Ketika aku sampai di rumah, api-api yang kasar itu masih membakar rumah kami.


Dan aku tahu, sekarang aku hanyalah taman yang tak lagi punya bunga-bunga kembang.

Pamulang, 2014

0 komentar:

Posting Komentar