Pandangan Tentang Buku Puisi Yusin dan Tenggelamnya Keadilan serta Hal Absurd Lainnya




Pandangan Tentang Buku Puisi Yusin dan Tenggelamnya Keadilan serta Hal Absurd Lainnya
Jacob Julian

Saya sebenarnya bukan penikmat puisi, tapi tidak lantas saya mengacuhkan jenis prosa ini. Saya bahkan mencoba menulisnya selama beberapa tahun terakhir tapi tidak seproduktif saya dalam menulis novel, cerpen maupun esai. Bahkan rata-rata puisi yang saya tulis berbentuk liris sehingga cocok digunakan sebagai sebuah lirik lagu—buat band saya sendiri, yang nggak terkenal pula. Bila suruh menyebutkan nama penyair Indonesia, saya hanya bisa menyebut beberapa nama saja. Itu pun hanya sekedar tahu dan dengar dari penulis lainnya. Misal: si A yang menulis puisi tentang Hujan Bulan Juni, si B yang menulis puisi mbeling dan sitok C yang menghamili mahasiswi. Lainnya nggak ada tahu, hanya nama sepintas saja. Tapi kalau disuruh menyebutkan skuad Real Madrid dari tahun 1999-2013, saya pasti langsung bisa cepat jawab. Dibantu Wiki tentunya.

Di dalam circle kepenulisan saya, tentunya saya kenal beberapa penyair. Mereka bagus dalam menulis puisi maupun pembawaannya saat membacakan puisi tersebut secara langsung. Saya terpesona tapi tidak ingin seperti mereka. Saya justru terpesona saat melihat giringan Gareth Bale dan ingin seperti dia, masuk ke skuad utama Real Madrid lalu punya pacar dan tidak lagi galau.

Anyway, pada awal tahun 2014 dua sahabat saya Pilo dan Hardia Rayya, teman kenal Facebook tapi sudah saya anggap sebagai saudara—kalau mereka nggak menganggap saudara yang biarlah saya mengutuk mereka jomblo selamanya, meluncurkan buku kumpulan puisi mereka yang terbaru. Pilo dengan judul; Yusin dan Tenggelamnya Keadilan serta Hardia dengan judul; Rumah.

Untuk saat ini saya membaca buku karya Pilo dulu karena buku Hardia belum sampai di tangan saya sampai saat ini. *bila Hardia baca ini, dia tahu apa yang harus dia lakukan. Saya memberinya penawaran yang tidak bisa ia elak*

Sebenarnya ini adalah buku kumpulan puisi yang bukan pertama yang pernah saya miliki. Saya tidak tertarik kepada kumpulan puisi sehingga tidak mengoleksi bukunya di antara tumpukan buku saya. Mungkin karena saya dengan mudah menemui puisi di kondisi seperti ini. Di koran setiap hari Minggu, di sosial media; Twitter, Facebook; juga di SMS saya juga sering membaca puisi kiriman para penggemar saya. Sepertinya hal ini terlihat sangat bohong ya?

Di buku Yusin ini, Pilo menulis setidaknya ... banyak puisi. Saya tidak menghitung berapa dan tidak ingat pula jumlahnya, mungkin Pilo bisa menceritakannya sendiri. Saya lebih ingat berapa skor akhir saat Borussia Dortmund menyingkirkan Real Madrid di semifinal UCL tahun lalu. Itu menyakitkan saat Real Madrid butuh satu gol keajaiban untuk mencapai final tapi pada akhirnya ... gagal. Seperti kisah cinta saya. 

Di banyak puisi yang diciptakan Pilo, saya merasakan kegundahan Pilo merindukan kampung halamannya, planet Namec.
 
Oh ... maafkan saya Pilo, saya pikir nama kamu itu singkatan dari Picolo. Ternyata bukan.
Pilo yang saya kenal lewat chatting dan juga di sebuah grup kepenulisan memang bukan berasal dari Jakarta, tempat tinggalnya sekarang. Dia berasal dari Serambi Mekkah dan puisi yang ia tulis di buku Yusin ini lebih banyak bertema rindu kampung halaman dan juga konflik daerah yang berkepanjangan yang bila di sinetronkan mungkin harus ganti produser 25 kali. Saya sendiri menangkap sedikit kegelisahan Pilo dalam puisi-puisinya menyangkut beberapa daerah di Aceh. Judul-judulnya saya lupa—tapi kalau disuruh ingat nama wanita yang menolak saya terakhir kali, saya pasti ingat nama dan suaranya pula kata-kata dia menolak saya. Dan saya menemukan repetisi di puisi-puisi ini. 

Selain tema yang diangkat, saya juga tidak menemukan sebuah pemantik yang bisa membuat saya sendiri tergerak untuk berada di tempat yang digundahkan Pilo. Memang karya yang bagus—bagi saya, adalah ketika kita merasakan sendiri momen yang dituliskan oleh si penulis dalam karyanya. Tapi saya tidak menangkapnya sama sekali di buku. Saya lebih menangkap kenapa Belanda lebih menurunkan Robin Van Persie daripada Huntelaar saat Belanda dibantai Perancis 2-0 beberapa hari silam. Itu jauh lebih menyedihkan.

Pilo tidak menulis buruk. Dia merasakan apa yang dia ingat sewaktu kejadian dan menuliskannya dalam kata-kata, tapi semuanya terasa monoton ketika saya membaca di mana Pilo menuliskannya. Di tempat rantauannya. Ini yang membuat feelpuisi Pilo terasa kurang. Puisi-puisi tentang rusaknya kampung halamannya ia tulis saat berada di tanah rantau yang jauh lebih kejam dari ibu tiri. Ketika dia menulis tentang rindu kampung halaman, itulah yang baru terasa. Kesepian, kegamangan, keresahan saat indomie habis dan harus diganti mie sedap, itu juga saya rasakan saat merantau dulu. Apalagi saat itu saya juga jauh dari yang tercinta; seperti PS, Nintendo, XBox ... kegamangan ini merasa lekat di puisi yang ditulis Pilo tentang rumahnya. 

Ada satu puisi yang saya sukai di buku ini, kalau dibilang, bagi saya ini adalah single utama/gacoan dari buku ini. Judulnya RINDU PADA YANG PERGI. Saya kutip sebagian saja. Untuk single yang lebih panjang, silakan download langsung di link yang sudah disediakan.

Pada deru pesawat
Dan lintas sibuk bandara
Selalu kita gantungkan sebuah rindu
Yang begitu merdu
(...)

Percayakah kalian tentang kata-kata dari buku bestseller, “kalau kita meminta sesuatu pada alam semesta, maka semesta akan mendukung kita dengan kekuatan tujuh bola naga, Dragon Ball?” Seperti itulah yang saya alami ketika membaca puisi tadi. Waktu itu tepat di atas saya sebuah pesawat melintas. FYI, rumah saya bukan tempat lintasan pesawat komersial, kalau pesawat tempur sih sering, apalagi pesawat UFO. Sehingga seketika saya teringat tentang kepergian dan kepulangan. Saya membayangkan hiruk-pikuk bandara sebagai sebuah tempat singgahan dan juga tempat syuting film FTV remaja. Puisi Pilo dengan judul tadi seolah menghantarkan ke alam bawah sadar saya bahwa saya harus move on dari hati cewek-cewek yang sudah menolak saya dan mencari bandara yang baru yang bisa saya singgahi lagi. 

“Sik to, kalau hati cewek yang kau cintai cuma bandara, rumahmu di mana Jac?”
“Anu .... Itu—WAH ADA GODZILLA!!!”

Sepertinya ulasan buku puisi Pilo sudah semakin berantakan seperti hati saya. Maklum menulisnya sambil stalking cewek yang saya suka tapi ternyata dianya ... begitulah. Saya tetap mencintai dia. 

Seperti yang Pilo harapkan ketika menulis buku ini. Agar tidak cuma para pencinta sastra—khususnya puisi saja, yang bisa menikmati karyanya. Tapi semua khalayak. Pilo memang mengambil sudut yang biasa diambil dari para penyair kebiasaan, tentang kerinduan akan kampung halaman, keresahan akan konflik Aceh dan juga cewek misterius yang dia namakan sebagai Yusin.

Justru puisi Yusin yang menjadi judul buku kumpulan puisi ini tidak bisa menyentuh batin saya. Mungkin karena saya cemburu Pilo sudah punya pacar dan bisa menulis puisi cinta bagus dan saya sedang dalam proses mendekati cewek—yang terus menjauh, dan nggak bisa nulis puisi sebagus Pilo. 

Dengan banyaknya endorsement di buku ini, which is saya nggak tahu siapa beberapa nama dari mereka, setidaknya Pilo sudah menunjukkan bahwa selain selebtweetada seorang putra daerah di luar sana yang jauh bisa menulis puisi bagus tanpa harus dibatasi oleh 140 karakter. 

Saran saya kepada Pilo di buku selanjutnya; coba pakailah jasa editor, bung. Jangan mengedit sendiri walau itu buku puisimu sendiri. Cari tema yang luar biasa untuk diangkat. Tetap menulis. Ramaikan kancah perpuisian di Indonesia. 

Dan saran saya yang terakhir; kalau sudah disebut sebagai penyair, jangan kau coba-coba hamili cewek. Apalagi yang berstatus mahasiswi. Ajak-ajak kalau mau menghamili. Kalau bisa cari yang gratis atas asas suka sama suka. Kita bagi kamar nanti.

PS: saya tidak memberi rating buku ini ala Goodreads karena itu begitu sangat arusutama. Kalau Pilo harus tahu dia harus memberi saya upeti. Maaf Pil, sekarang saya udah nggak nyedot Marlboro. Saya sekarang nyoba yang nggak pake filter.

Madiun, 13/03/2014 


Jacob Julian, pandit bola yang menunggu Manchester City beberapa jam lagi membantai Bancircelona walau tetap mendukung Real Madrid apapun alasannya. HALA MADRID!!! Jacob juga menulis buku tentang stand-up comedy, berjudul Comedy Of Juno yang akan disebar di toko-toko buku beberapa waktu mendatang. Dan kalau Manchester City kalah dini hari nanti, Jacob berharap dia tidak kalah untuk menaklukkan hati cewek yang sedang dicintainya.