The Great Gatsby: Sebuah Cinta yang Dalam



Judul     : The Great gatsby


Penulis  : F. Scott Fitzgerald


Penerbit : Serambi


ISBN      : 978-979-024-192-3


Resensor  : Pilo Poly

















The Great Gatsby:
Sebuah Cinta Yang Dalam

Lahir dalam keluarga kelas menengah ke atas, F. Scoot Fitzgeral telah berhasil menjadikan tulisan-tulisannya terkenal di seluruh dunia. Dengan segala metafora yang berebutan ke hadapan pembaca, tak salah jika novel yang bertajuk The Great Gatsby menjadi salah satu bacaan standar dalam pelajaran literatur di Amerika.

Dengan mengambil sudut pandang orang pertama, F. Scoot Fitzgeral mencoba memaparkan segala bentuk kemegahan dan kekayaan orang-orang kaya baru, yang meruntuhkan nila-nilai sosial dan moral dalam sinisme, keserakahan dan hawa nafsu. Hal tersebut terekam dari seorang Nick Carraway–pendatang baru di New York yang dipercaya untuk menyimpan segala rahasia dari orang di sekitarnya- yang berpokus pada seorang lelaki misterius bernama Jay Gatsby. Tokoh sentral yang memendam cinta pada Daisy. Orang yang akhirnya menikah dengan seorang lelaki berpendidikan tinggi, kaya dan berperangai kasar, Tom Buchanan. “Kenapa mereka datang ke East, aku tidak tahu. Mereka pernah tinggal setahun di Prancis tanpa alasan khusus, kemudian mereka merantau kesana-sini dengan tergesa-gesa, kemana pun tempat orang bermain polo dan orang  kaya berkumpul bersama.” (Hal 15).

Tumpah dengan segala hal berbau perumpamaan, The Great Gatsby lagi-lagi membuat hentakan di dalam setiap babnya. Penggunaan metafora yang selalu memukau membuat pembaca mungkin banyak terkagum-kagum termasuk saya. Hal ini dapat ditemukan di bab-bab berikutnya yang mulai membara. “Tiba-tiba dia menunjuk ke arahku dan setiap orang memandangku dengan tatapan menuduh. Aku berusaha menunjukkan dengan ekspresiku bahwa aku tidak memiliki peran apapun pada masa lalunya.” (Hal. 59).

Dalam perjalanannya, Nick Carraway merekam setiap tindak tanduk teman-teman barunya itu. Salah seorang adalah Lucille, perempuan yang hanya senang berpesta dan tak perduli dengan apa yang ia lakukan. Bahkan dari perempuan itu juga Nick Carraway mendengar desas-desus bahwa Jay Gatsby pernah membunuh seseorang. Tapi apa yang didengar oleh Nick Carraway dari mulut Lucille itu tidak ditelan mentah-mentah. Hari-hari berikutnya banyak hal lain yang ditemukan Nick dalam kehidupan seorang Jay Gatsby. “Aku Infanteri Ketujuh hingga Juni 1918. Aku tahu aku pernah melihatmu di suatu tempat sebelumnya.” (Hal. 76).

Novel yang diterbitkan kembali pada Oktober 2010 oleh penerbit Serambi ini, begitu banyak membuat hentakan demi hentakan. Salah satunya saat seorang Jay Gatsby menayakan pendapat tentang dirinya sendiri dari Nick Carrayaw. Ia tak mau Nick Carraway mendapatkan gambaran yang salah tentang dirinya dari cerita orang-orang. Dan dengan begitu lancar, Jay Gatsby menjelaskan tentang dirinya pada Nick Carraway dalam sebuah mobil berwarna cream dengan cerah nikel. “Aku  adalah putra orang kaya di Middle West –semuanya sudah meninggalkan sekarang. Aku dibesarkan di Amerika, tetapi belajar di Oxfod karena semua nenek moyangku belajar di sana sejak jaman dulu. ini sudah menjadi tradisi keluarga.” (Hal. 102).

Namun semakin banyak mendengar dan mengenal seorang Jay Gatsby, semakin banyak pula rahasia yang harus disimpan oleh Nick Carraway. Belakangan Nick juga tahu bahwa kedekatan Jay Gatsby dengan dirinya tak lain dari rencana Jay Gatsby untuk dipertemukan dengan Daisy. Perempuan yang lembut itu, walau sudah menikah dengan seorang lelaki kaya raya, belum dapat dilupakan oleh Jay Gatsby. Menurutnya, hanya karena Daisylah, Jay Gatsby sering mengadakan pesta di rumahnya dan berharap suatu saat Daisy akan muncul di tengah-tengah pesta itu. “Sudah bertahun-tahun kami tidak bertemu,” kata Daisy, suaranya sebisa mungkin terdengar biasa. (Hal. 134).

Novel ini sendiri ditutup dengan kematian Jay Gatsby yang menurut Nick Carraway terlalu didramatisir. Segala beritu yang kemudian mencuat adalah pembohongan belaka. Nick juga menemukan dirinya sendiri membela dan berdiri sendiri di pihak Jay Gatsby itu. Bahkan orang-orang yang kerap datang ke pestanya saban minggu tak satu pun yang berhadir saat pemakaman berlangsung. Kecuali ayah Jay Gatsby yang datang dari sebuah kota di Minnesota, dan sangat terpukul dengan kejadian itu. “Setelah kematian Gatsby, East menjadi angker seperti itu bagiku. Jadi, saat asap biru daun-daun yang rapu berterbangan di udara dan angin meniupkan pakaian basah yang kaku pada tali-tali jemuran, aku memutuskan untuk pulang ke rumah.” (Hal. 269).*