Pilo Poly dan Buku Puisinya

Pilo Poly dan Buku Puisinya

Sekali pun seolah kita mengesankan bermain-main, berkata ingin muncul lewat cetakan, tidak begitu: kita bersungguh-sungguh, mencoba mewujudkannya. Mimpi bahwa sastra maya - puisi di buku yang telah terbit pun, seperti puisi di buku Nurudin Pituin, saat ia dishare ke maya, bagi kita sudah jadi sastra maya. Atau, marilah kita sedikit melepaskan diri dari setiap batasan, bahwa ada suatu sastra dan ia lahir di maya, atau ada suatu sastra dan ia lahir di koran/cetakan/buku, atau semacam itu, akhirnya toh ia adalah bahasa dalam watak sastra itu.

Mimpi semacam itu yang ingin kita tuai kini. Olehnya kita gemar bersapa seperti, saat ini, saya tengah bersapa dengan Pilo Poly Cendolers - aduh namamu ini bro pilo, hehe, karen amat - semata untuk melihat apa yang tengah terjadi dengan sastra kita lewat, toh orang orang membuat buku.

Ini sistem pod om, kata pilo dan kataku: apa tu sistem pod, pilo, kata pilo: dicetak sesuai pesanan dan kukira, atau kubayangkan, semacam kita ingin membeli oto: inden. Kita sertakan ingin: mau pesan oto, kita bayar dulu, baru oto tiba. Beginilah om keadaanku, dan kataku, beginilah juga keadaanku pilo - kuluaskan: memang begini keadaan sastra ketimbang, keadaan musik atau film. Keadaan yang sama kuat dalam segi makna bagi penggemarnya, tapi agak ketepian dari segi kemasan oleh - kukira kita telah tahu bersama, isi dari "oleh" ini. Bahwa begitulah keberadaan varian-varian kebudayaan. Ada yang cepat sekali kakinya melar, mekar ke mana mana, ada yang pelan. Mungkin sastra itu, masuk ke bagian yang pelan. Kukira itu tak mengapa oleh memang begitulah kenyataan. Kita tabah, di atas segenap kenyataan dari suatu perbedaan yang melingkupi di kenyataan hidup ini.

Lihat kata pilo di bawah ini: sebuah awalan untuk bangkit om, katanya. Dan misal om itu kita lepaskan lalu kita ganti, sebuah alasan untuk bangkit, maka om itu bisa saja kita isi dengan: sastra maya.


Kita, Lukisan, dan Puisi

Kita membuka sebuah catatan dari tubuh kita masing-masing. Saat itu, sebuah subuh telah menjelma nama Tuhan. Tapi kita belum selesai membaca setiap catatan-catatan. tidak denganmu. juga denganku. Hingga kita terkapar tak sadarkan diri dan bertemu di suatu tempat dalam mimpi yang penuh dengan suara saksofon tak henti.

Kau mendatangiku. Mengetuk pintu rumah yang sebenarnya tak kukunci. Setelah pintu itu terbuka tanpa sangaja, kau masuk dan memperhatikan setiap dinding yang penuh dengan lukisan luka, dan puisi-puisi yang tak kunjung kutulis, atau sampai pada sebuah meja. kau masuk dalam setiap lukisan itu, dan seperti ingin membawa pulang setiap puisi.

Hingga pagi menyilau. aku masih melihatmu melukiskan kembali setiap luka di dinding menjadi sebuah cerita. lalu meletakkan puisiku pada sebuah meja yang sering kau sebut pintu bahasa. dan aku, enggan ingin bangun karena takut tak melihat orang bertamu di meja yang kau letakkan puisiku.

Puri Gading, 2013

Saya belum punya buku puisi Pilo Poly Cendolers. Tapi kemarin Pilo mengirimi semua kita di maya serial puisinya monogram. bagus bagus puisinya, atau kita hendak mengatakan: bahwa sebenarnya kita mungkin saja belum mebacai semua puisi teman, sehingga sukar menyimpulkan kekuatan sastranya. Saat diri digelontorkan 5 sampai 10 puisi seperti itu, kita lalu tahu konsistensi para penyair dengan puisinya. Kita pun yakin. Tapi untuk menambahkan keyakinan ini, setelah membaca monogram, dan kebetulan Pilo menshare buku puisinya, saya lalu ingin tahu isi buku ini. Bila tak berkeberatan, Pilo, kataku di inbox itu - siapa bilang kita enggan bermain di inbox? kita memainkan inbox juga untuk dugaan kreatifitas yang ingin dalam prioritas wujud - boleh kuminta beberapa puisimu? pilo menjawab dengan tenang, rendah hati dan terasa oleh saya, ada suatu kepayahan menciptakan buku sastra itu, daerah romantik bahwa tidak mudah membuat buku, dari sudut ukuran apa pun. Pastilah uang, jaringan, dukungan lain lain. Tapi bahwa orang, kini nekat membuat buku, lewat upaya lelah-lelah apa saja, itulah yang terus menerus kita sangat hargai. Itulah kebajikan sastra, saat kita berusaha mewujudkan sastra kita jadi buku. Pun jurnal ini, walau ia kerap berkata, ogah hadir di cetakan cukuplah di maya. Sederhana saja soalnya, bukan atau mana lebih baik, tapi soal ketahanan dari kemandirian sebuah produk adalah buku. Misal fb suatu ketika bangkrut, maka buku maya kita toh ikut tenggelam. Tapi tidak demikian dengan buku yang ber-isbn itu.

Kembali ke Pilo lagi, atau saya ingin mencoba menikmati puisi Pilo di sore yang murung ini. Sore sore, Pilo ya, enak bagi pengantin baru. Enak juga bagi pengarang yang sedang memiliki buku baru seperti dirimu, Pilo Poly.
 

Selalu apa yang aneh saya lihat itu berulang: bahwa kepahitan itu, andai ia telah sampai ke bahasa, yang terasa adalah keindahan. bagi saya nama buku pilo ini indah. yusin dan tenggelamnya keadilan. seolah-olah nama orang, yusin itu. sedang tenggelam kita telah tahu belaka apa artinya. pun keadilan itu seperti tenggelam, begitu akrab dalam hidup kita. tetapi seperti biasa pula, saya tidak buru buru bertanya ke kamus apakah arti yusin itu. agaklah pasti: saya tidak pernah ingin bertanya ke penyairnya: nama orangkah yusin itu. entahlah, justru kemerabaan, terasa bagi saya adalah keindahan itu sendiri.