TULISAN BARU




Pertemuan Penyair Nusantara (PPN), XI 2019 di Kudus, Jawa Tengah, dari Jumat, 28 hingga Minggu, 30 Juni 2019 adalah event sastra paling bergengsi yang saya ikuti. 

Event yang mengetengahkan Persaudaraan dan Kemanusiaan ini menghadirkan para penyair baik dari Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, dan Brunei Darussalam terdiri dari 46 penyair dari Jawa Tengah, 32 penyair nasional, 6 penyair dari Malaysia, 7 penyair dari Singapura, 6 penyair dari Thailand dan 4 penyair dari Brunei Darussalam. 

Temu penyair ini sendiri sejatinya telah dilaksanakan sejak tahun 2007. Artinya, telah 11 tahun PPN diadakan dengan segala kelebihan dan kekurangan. 

Tentu saja jika berbicara kekurangan, tak ada yang sempurna dalam setiap pagelaran sastra di Indonesia. Sebab belum sepenuhnya pemerintah Indonesia mau peduli terharap kesusasteraan. Itu terlihat dari begitu susahnya birokrasi memberikan fasilitas kepada para penyair yang hendak mewakili daerahnya masing-masing.

Pun demikian, tak semua pula penyair-penyair ini selalu mau berharap kepada pemerintah. Mereka muak, katanya dan kadung membesarkan hati untuk merogoh kocek sendiri jika hendak mengikuti event sastra.

Hingga saat ini, berbagai diskusi juga telah dilakukan untuk mencari formula agar pemerintah daerah benar-benar mau peduli kepada mereka. Tapi lagi-lagi, ketika ada event, mereka harus rela dengan pernyataan yang sama bahwa pemerintah tidak punya anggaran untuk itu. Menyedihkan? 

Padahal, sumbangsih para penyair ini perlu dikembangkan sebagai bentuk penghargaan untuk kebudayaan, terutama kesusasteraan. Terlebih betapa bobroknya pula pendidikan kita saat ini. 

PPN XI Kudus, saya kira adalah mata rantai kebuntuan kita selama ini. Event ini adalah mata air yang begitu melegakan di tengah kondisi Indonesia yang serba amburadul ini. Itu sesuai pula dengan puisi yang dibacakan D. Zawawi Imro, berjudul Tanah Sajadah.

"Agar Indah yang indah semakin damai dan indah
Tanah air adalah sajadah
Siapa mencintainya
Jangan mencipratinya dengan darah 
Jangan mengisinya dengan fitnah, maksiat, dan permusuhan
salah satu penyair," ucap dia di atas Panggung Penyair Asia Tenggara.

Untuk itu, perlu kiranya kegiatan sastra ini tidak saja didukung oleh berbagai perusahaan swasta seperti halnya dari Bakti Budaya Djarum Fondation, tapi juga pemerintah, DPR RI terutama Komisi X, yang membidangi Pendidikan dan Kebudayaan, jangan hanya pintar bagi-bagi proyek dan mengambil keuntungan untuk diri sendiri.



Jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB tapi bis yang saya pesan sejak dua hari lalu di #traveloka belum sampai. Saya memesan bis #POTransZentrum dari Semarang menggunakan aplikasi tersebut.

Di sana, tertera jam keberangkatan pukul 17.00 WIB di #AgenPoTransZentrum di Jalan Majapahit, No 377, Gemah, Pendurungan, Semarang dengan nomor pemesanan X-O8FLV0.

Saya paham bahwa pasca arus balik, banyak bis yang kelabakan karena pesanan yang membuldak, ditambah tiket pesawat mencapai 2jt jika dibeli pas hari H berangkat.




Namun, yang disayangkan adalah pelayanan yang amburadul dari kedua belah pihak, baik dari pihak #traveloka yang tak dapat dihubungi hingga pihak #AgenPoZentrum yang seolah tidak dapat bertanggungjawab atas pesanan yang dimiliki oleh penumpang.

Sebagai pengguna aplikasi #traveloka, saya belum pernah sekecewa ini. Bayangkan dari pukul 16.00 WIB menunggu di #AgenPoTransZentrum, hingga jam segini (pukul 22.11 WIB) kami sebagian penumpang belum mendapatkan kepastian.

Dari Zentrum SR-1, mau tidak mau kami dipindahkan ke bis lain, #BisLangsung, katanya bukan #AgenPoTransZentrum sesuai dengan pesanan kami melalui aplikasi #traveloka. Begitu pula dengan puluhan penumpang lainnya yang terus dioper dari MK-4, MK-3, ke ZE-3 dan sebagainya.




Tidak bisa dielak. Hampir semua penumpang yang tumpah di #AgenPoTransZentrum di Jalan Majapahit, No 377, Gemah, Pendurungan, Semarang adalah penumpang yang membeli tiket di #traveloka.

Bahkan Amir, salah satu penumpang yang akan ke Jakarta memilih untuk membatalkan kepulangangannya ke Jakarta bersebab tidak ada kejelasan keberadaan bis yang berangkat ke Jakarta.

"Wes muleh ea ke rumah. Ora jelas iki bis ne," kata dia agak kesal dan melenggang pergi meninggalkan lokasi bersama istri.

Sampai pukul 22.22 WIB, masih ada dua bis yang merapat di depan #AgenPoTransZentrum di Majapahit. Dua bis itu hanya memuat beberapa penumpang yang tujuannya ke Merak dan Cilengsi. Masih ada puluhan kepala yang masih menunggu.



"Bis Langsungnya wes di Demak, mas," kata Riri, salah seorang perempuan yang menangani para penumpang menggunakan toa. Ia sedari pukul 17.00 WIB sudah datang dan memberikan info terkait bis yang akan memberangkatkan penumpang ke Jakarta.

Meski sudah memastikan kedatangan bis, namun bis yang katanya sudah di Demak (Bis Langsung) belum juga sampai di #AgenPoZentrum di Majapahit. Salah seorang penumpang lainnya, yang turun di Grogol, Jakarta juga berang bukan main. Dia sampai membanting tas yang di bawanya. "Sudah jam 11 malam ini loh. Mana mobilnya," kata penumpang bernama Suryadiono tersebut.

#AgenPoZentrum di Majapahit mengakui, baru lebaran ini pihaknya mendapatkan banyak orderan dari #traveloka. Katanya, pemesanan menumpuk dari #traveloka. "Numpuk mas. Tapi dengan keadaan crowded ini, kami memastikan semua penumpang berangkat," ujarnya dengan wajah penuh peluh dan kemerahan.

Berselang beberapa menit, #BisLansung yang menggantikan Zentrum SR-2 akhirnya merapat di #AgenPoZentrum di Majapahit. #BisLangsung tersebut akan membawa puluhan penumpang yang sedari pukul 17.00 WIB menunggu di #AgenPoZentrum tersebut.

Tidak ada disepensasi apapun terhadap tujuh jam lebih telatnya keberangkatan. Pun demikian, orang kecil seperti hampir separuh penumpang #BisLangsung ini bisa apa?




Bis Langsung, Membelah Semarang Jakarta

Setelah habis amarah, akhirnya #BisLangsung New Setra Jetbus 2+ (begitu namanya) yang tidak terpikirkan oleh para penumpang pemesan tiket #Zentrum di #Traveloka melepas tuasnya. Bis itu berjalan berlahan membelah jalanan Majapahit, berputar ke arah kota dan berhenti di Jalan Kalibanteng, dan menaikkan penumpang lainnya, di PO #Zentrum Kalibanteng, Jalan Taman Sri Kuncoro III.

Pukul 23.28 WIB ...
Pukul 23.29 WIB ...
Pukul 23.30 WIB ...

Pukul 23.33 WIB bis masih bersandar di PO #ZentrumKalibanteng, puluhan penumpang dengan wajah capek berharap segera berangkat terjadi lagi. Sama persis wajah-wajah pias penumpang dari PO #Zentrum di Jalan Majapahit yang menunggu sejak pukul 17.00 WIB tadi.

Hingga pukul 23.40, #BisLangsung belum kembali menginjak tuas. Berbagai bis lain yang melaju ke arah Jakarta, sudah melesat bagai peluru. Lampu jalanan mulai redup dan bisingnya kendaraan tak ada habisnya.

Pukul 23.44, #BisLangsung baru mulai tancap gas. Lampu kanopi di dalam bis padam. Petunjuk arah Kendal/Jakarta serasa kue ulang tahun. Di kejauhan, kerlip lampu belakang berbagai mobil di lintasan jalan seperti destinasi rumah pelangi di Randusari, Semarang, angggun dan berkedip-kedip.

Di layar tv, Putri D'academy melantunkan lagu Cinta Berpayung Bulan. Blue Start, Argamas BM09, satu-satu tinggal di belakang. Namun jalanan masih ramai dengan sepeda motor yang lalu lalang di kiri bahu jalan, hantu-hantu kasat mata ini kadang tidak berlampu!

Sesekali, laju #BisLangsung ditingkahi per kiri dan kanan yang berteriak, nyit-nyit katanya sambil menyalip sebuah tronton berbadan panjang.

Pukul 00.00 WIB, papan petunjuk mengarahkan, lurus Jakarta, kanan Terminal Mangkang dan belum ada tanda-tanda #BisLangsung akan menelan jalan tol. Di sebuah papan petunjuk lainnya di sebelah kiri, petunjuk lainnya terpampang agak lebih kasar, lurus Jakarta, kanan Pelabuhan Kendal.

Di jalan yang lebar kiri kanan empat meter ini, ada pula tulisan 'hati-hati traffic light 150 meter' dan #BisLangsung sudah beberapa kali makan jalan rusak. Nyit-nyit per kiri kanan menjerit lagi, aus!

Pukul 00.08 WIB, lampu merah Kaliwugu Boja tertinggal di belakang. Di pertigaan lampu merah Magetan kiri, Jakarta lurus, iklan caleg dan rokok masih kokoh. Bis kami menyalip PO #Zentrum Megatrend yang tadi juga berhenti di PO #ZentrumKalibanteng dan lebih dulu tancap gas.

Pukul 00.09 WIB ...
Pukul 00.10 WIB ...
Pukul 00.11 WIB ...

Pukul 00.19, Billboard Kendal Kota Beribadat terpampang lusuh dan kotor. Sorot lampu #BisLangsung tak bisa dielak papan iklan itu. Di jalanan yang kurang rata ini, ada tulisan SMG 34 KM. Sebuah mobil pribadi H 9342 G berjalan lambat di jalur cepat. Tronton lagi-lagi menguasai jalanan arah Weleri ini.

Di perempatan 'Tol Khusus' Kutosari, #BisLangsung ngacir ambil petunjuk kanan DKI Jakarta - Bandung dan tidak menelam lampu tol di depan mata. Artinya, #BisLangsung ini melewatkan jalur empuk itu.

Di hadapan kami, gas #BisLangsung agak melambat. Kiri kanan jalan hanya ada penanda warna yang menyala tanpa lampu jalanan. Jalan gelap gulita bukan main. Beton-beton rambu pembatas disorot lampu menguning #BisLangsung naik turun bagai gelombang sebab jalanan penuh dengan tambalan. Sejak pukul 00.27, hingga 00.40 baru lampu-lampu berkibar di beberapa titik dan #BisLangsung berhenti di RM. Lumbung Padi, Patebon.

Kencing,
Makan,
Rokok.

Rubiah, sang supir berumur 59 tahun yang mengemudi #BisLangsung berplat Kudus, K 1678 AB, mengaku sudah 30 tahun menjadi supir antar kota antar provinsi. Sempat berhenti dua tahun dan membuka usaha. Namun usahanya tidak berjalan dengan baik. Akhirnya lelaki baja itu banting setir lagi ke pekerjaan awal.

"Mau kerja apa, mas. Macul ga sanggup udah tuwo, yowes sing jalanin saja dadi supir," ujar dia sebelum membenamkan gas dan melesat lagi meninggalkan RM. Lumbung Padi, di perbatasan antara Kendal - Patebon.

Pukul 01.32 #BisLangsung berjalan lambat. Jalanan begitu sepi, dan warung yang menyediakan oleh-oleh sudah lesu dari berbagai yang parkir. Di SPBU 10.2.4.0003, lampu jalanan mulai redup lagi. Sepanjang jalan hanya terlihat lampu-lampu mobil dari dan ke Jakarta.

Di layar ponsel, baterai sudah sisa 29 persen. Power bank sudah lenyap sejak di Kutosari. Begitu pula dengan mata saya. Sayup-sayup lagu dangdut mengajak saya tidur.

Di Gerbang Tol Kandeman, #BisLangsung rupanya tak ngacir lagi. Dia lurus saja masuk dan menancap gas tanpa henti. Gas terlihat berputar di 90-100 KM/Jam. Penumpang menarik selimut. AC dingin dan malam semakin puncak.





Sejak pertama kali beli kartu simpati hingga hari ini, umurnya sudah 3957 hari. Artinya, sudah 10 tahun 841 hari saya memakai kartu tersebut tanpa menggantinya. Banyak pula teman-teman lama yang tetap menghubungi saya di nomor tersebut meskipun kadang ada nomor baru teman-teman yang tidak tersimpan dalam ponsel sebab mereka menghubungi saya dengan nomor lain.

Dengan kata lain, nomor lama ini masih dapat diingat oleh orang lain meskipun yang menghubungi telah beberapa kali mengganti nomor ponsel mereka. Itu nampak seperti bertahan dari berbagai perjalanan hidup. Untuk bertahan 10 tahun rasanya tidak mudah. Tapi kok ya sudah lewat saja 10 tahun itu tanpa di sadari. Artinya, waktu tidak akan berkompromi dengan kita, atau dengan keadaan kita kecuali kita sendiri yang mengubahnya.

Belum lagi bertahan dari berbagai kondisi, terutama dengan begitu banyak promo paket internet yang menggiurkan. Meskipun ada istilah bahwa pemakai kartu Telkomsel itu adalah horang kaya, saya sendiri memaknainya sebagai ajang silaturahmi dengan yang lain, memudahkan teman-teman lama yang ingin berkomunikasi dengan saya.

Pada idul fitri yang mulai ini, banyak pula nomor baru yang masuk menghubungi saya terutama kawan-kawan di Aceh. Meski jauh di Jakarta, saya tetap mengucapkan ribuan terima kasih sebab mereka masih ingat, masih mau menjalin hubungan dengan saya di saat saya sedang dihantam kepercayaan diri yang rendah terhadap apapun.

Saya yakin, silaturahmi itu pula yang akan membawa kita pada harapan, pemikiran dan langkah baru di hari yang baik ini. Dengan begitu, keterpurukan apapun akan kita lewatkan dengan mudah dan tidak gampang menyerah.

Akhirul kalam, saya dengan serendah-rendahnya diri, dengan ikhlas meminta maaf kepada yang pernah saya kecewakan, atau sebaliknya: mengecewakan saya. Minal aidin walfaizin, mohon maaf lahir dan batin. Selama hari raya idul fitri 1440 H.

3957 hari =10,841 tahun.


Saya adalah orang yang selalu mempertanyakan pada diri saya, untuk apa sebenarnya saya menulis puisi. Sejak 2011, saya tahu bahwa saya hanya ikut-ikutan menulis puisi, hanya sekedar suka belaka sebab saat itu begitu berlimpahnya waktu bagi saya. Jadi saya punya banyak sekali kesempatan untuk sekedar menulis, belum sepenuhnya punya tujuan mengapa saya tertarik menulis, terlebih-lebih menulis puisi.

Setelah menerbitkan buku puisi pertama saya Yusin dan Tenggelamnya Keadilan pada 2014 lalu, hampir 2 tahun saya berhenti menulis karena saya merasa begitu kosong bahasa puisi yang saya tulis. Saya merasa tidak menemukan bahasa baru atau penyampaian tidak biasa dalam puisi-puisi saya baik secara estetik, puitik, kebaruan dan pakem-pakem lainnya dalam puisi. Meskipun demikian, saat itu saya tetap mendapat berbagai apresiasi dari berbagai penyair dengan kata lain menurut mereka saya setidaknya bahwa saya sudah mampu menulis.

Setelah mengalami hal di atas tersebut, saya memperkuat diri dengan memperbanyak bacaan buku dan melakukan studi dengan puisi orang lain sehingga saya akhirnya menerbitkan kembali puisi kedua, Sehelai Daun yang Merindukan Ranting (2016) dengan penuh "catatan" pula bahwa waktu itu bahwa saya masih sekedar ingin menulis bukan kenapa saya harus menulis.

Pada periode 2011 hingga akhir 2018 (artinya sudah 7 tahun saya memberanikan menulis puisi), akhirnya saya menemukan diri saya. Bahwa menulis adalah menyampaikan gagasan, pengalaman, hingga daya intelektual seseorang dalam memvisualkan bahasa. Tidak mudah membuat bahasa yang mengena kepada pembaca jika daya tangkap bahasa kita masih tipis, bahkan terkesan mengada-ada atau tidak masuk dalam logika berpikir.

Namun, dalam puisi-puisi terbaru karya Ratna Ayu Budhiarti berjudul Sebelas Hari Istimewa yang saya baca pagi ini dalam kereta Tawang Jaya menuju Semarang, saya menemukan kejujuran Ratna dalam meyampaikan pemikiran dan daya pikirnya yang luas.

Dalam puisinya, Ratna bukan saja mampu mengolah bahasa, namun juga mengajak semua pembaca untuk hadir dalam puisi-puisinya. Seperti puisi di bawah ini, misalnya, ia tidak malu untuk mengatakan bahwa dia sedang di Eropa dan modalnya hanya keberanian. Hal itu disampaikan Ratna puisi Kalkulator Dan Kurs Rupiah.

Apa yang disampaikan Ratna tentu tidak utuh jika hanya dibaca sepintas, dan tanpa daya nalar bahwa, sesungguhnya apa yang disampaikan Ratna bukan sekedar masalah uang semata, tapi keyakinan dan impian yang telah lama diinginkannya untuk sampai pada satu tujuan.

Untuk melihat bagaimana kejujuran tersebut, berikut saya cantumkan puisinya di bawah ini:

KALKULATOR DAN KURS RUPIAH

Berapa nilai tukar rupiah hari ini?
Aku mau belanja jaket dan oleh-oleh
Apakah uang euro kita masih cukup?
Di sebelah mana ada ATM?

Pertanyaan demi pertanyaan
kita lontarkan bisik-bisik
sambil diam-diam memijit
kalkulator ponsel
biar tak banyak yang tahu
modal kita hanya doa
dan beberapa picis

Di eropa, begitu gesit
kalkulator otak bekerja

Berapa nilai rular kecemasan?
Hari-hari dilalui jauh dari negeri sendiri
Apakah bisa juga menukar cinta
dari Indonesia?

#RAB, 2018-2019

Ada sembilan frame puisi dalam buku terbaru Ratna yakni, Kabar dari Darat, Italia, Austria, Swiss, Jerman, Prancis, Belgia, Belanda dan Sebelas Hari Istimewa. Dalam setiap frame berisi berbagai judul puisi. Semua puisi dalam buku ini menarik, sebab tidak semua orang mampu mengumpulkan berbagai kenangan yang telah lalu dalam ingatannya dan dituang kembali dalam bentuk tulisan yang renyah, dan memiliki kekuatan kuat untuk memberikan keberanian kepada orang lain untuk memulai menulis dengan istiqamah, tekun dan mau belajar.

Saya sengaja tidak membahas semua puisi yang ada dibuku ini, saya juga tidak membahas judul utama puisinya. Sebab, saya ingin siapapun yang ingin menulis, bacalah berbagai puisi yang ada, salah satu buku puisi terbaru Ratna.

Selamat!






Dalam 1 bulan ini, tiga kali sudah saya berkesempatan main ke Semarang. Kali pertama hanya untuk hal remeh temeh untuk bertemu dengan seseorang guna memenuhi permintaan kakak di Aceh. Itupun tidak ke Semarang, melainkan ke Weleri. Salah satu daerah yang akhirnya saya tahu bahwa di sana ada rumah industri yang menghasilkan salah satu produk Kompor Bahan Bakar Oli Bekas, boleh dipakai oleh berbagai warung pinggir jalan dan begitu banyak bisa menghemat gas (nanti diulas khusus).

Kali kedua lain lagi. Saya kebetulan dipercaya untuk menjadi sektretaris para dewan juri dalam sebuah helat Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XI 2019. Kali itu, saya hanya menumpang transit di Bandara A. Yani sebelum akhirnya saya dan bareng juri PPN lainnya (Ahmadun Yosi Herfanda, Chavchay Syaifullah dan Kurnia Effendi) dijemput menuju Kudus, tempat rapat sebenarnya dilakukan. Jadi, kenapa saya katakan kali kedua, sebab saya usai kegiatan rapat PPN, saya kembali ke kota ini sendiri: cuma diantar tanpa dijemput lagi sambil memetik satu dua kenangan dengan @adindanenii.

Kali ketiga adalah: baru 1 minggu yang lalu. Selain berkesempatan ngopi di berbagai caffe di Semarang, serta menginap di The Capsule Hotel (tempatnya backpacker), saya juga bertemu dengan salah satu komunitas menulis yang keren banget, yakni IDN Time Community, yang waktu itu sedanf melaksanakan diskusi menulis dengan mengetengahkan "How to Make a GoodContent". Kehadiran komunitas ini tentu kabar baik bagi literasi kita yang surut: orang-orang ingin menulis hanya jadi wacana belaka tanpa benar-benar melaksanakan keinginan tersebut.

Ernia Karina (@jalieur) sebagai Editor & Manager IDN Times Community mengajak semua yang hadir agar serius menggarap bakat kepenulisan yang dimiliki agar mampu menjamin finansial para penulisnya dengan baik. Dengan keseriusan, kata dia, maka seorang penulis akan bisa membentuk karakter kepenulisannya.

Diskusi yang diadakan di Rumah Sasongko Semarang, Sabtu, 9 Maret 2019 lalu itu berlanjut pada esok harinya dengan tagline berbeda. Kali itu acara menjadi lebih semarak sebab agendanya adalah One Day Travel Blogging, salah satu kegiatan perjalanan sejarah perkeretaapian Indonesia. Para anggota komunitas diajak untuk mengenal sejarah perkeretaapian sekaligus menulis momen tersebut di akun IDN Times masing-masing anggota.

Community Writer, Ruth Christian (@ruthchristian) di lokasi finish acara di Tekodeko Koffiehuis, Kota Lama, mengatakan kegiatan ini adalah acara rutin yang diselenggarakan komunitas IDN Times Semarang. "Ini adalah kegiatan rutin yang diadakan komunitas IDN Times Semarang dengan harapan menjaring lebih banyak penulis di kota Semerang," kata dia.

Tentu saja kegiatan ini berguna banget buat siapapun. Tak jauh beda dong dengan manfaat besar karena ketemuan sama dia di Semarang colek (@adindanenii)?






NISHA

Dialah—jika boleh disebut ibu hutan—
rumput liar di tanah basah. Tempat
pohon-pohon menidurkan sebentar
saja kebohongan dalam dirinya. Ia setegar
bahu perantau yang kasab, berkilau dan
ingin mengobati hari yang robek oleh
aroma anyir kehidupan dini hari.

Tapi dia lemah. Meski gunung-gunung
dan pohon sekuat dan secerah matanya.
Dia tetap sepi, jika ada yang hilang
dari kasihnya, dadanya akan berdarah
dan air matanya akan menenggelamkan
seluruh jagat rimba.

Kepada Mowgli, diserahkan sepenuh dirinya.
Dia akan mampu merenangi hidup dan tak
patah dihantam buruk cuaca. Kekuatannya,
bagai kokoh gading gajah dan begitu kuat
seperti karang nun jauh. Doa dari segala
gemeretak dada. Layar kembang puak rimba.

Jakarta, 2019





SEANDAINYA
buat Ahmad

Seandainya tubuhku gelombang Ie Beuna,
ingin kutarik tanganmu dari tragedi itu.
Lalu secara tergesa akan kukabarkan
pada para puak bahwa kau bukanlah
puluh ribu orang yang melawan laut
pada pagi Minggu itu.

Di luar, langit cerah seperti candaan kita
Tapi dari arah laut, gelombang meretakkan
Cita-cita dan membawa hanyut harapanmu,
Hampir seperti desa-desa kita yang saban
Waktu disapu oleh ribuan peluru dari Jakarta.

“Aku ingin jadi Militer,” katamu, suatu hari
Tapi pada hari lain, kau mendadak jadi
Seulanga, dan aku terpacak menunggumu
di hadapan luas laut tak berbatas ini
dengan suara Seurune Kalee yang
meringkik, pedih dan seolah menangis.

Di laut, apakah kau bahagia, Mad?

Jakarta, 2019



Koran Tempo, Sabtu, 23 Februari 2019


Di luar gedung, seorang anak kecil mendengar keributan hatinya. Kata-kata yang berserak itu, membumbung tinggi, pecah pada mikrofon-mikrofon, dinding-dinding, dan jidat-jidat teater.

"Tiket terlalu mahal. Seorang pengemis yang ingin menonton pertunjukkan, terjebak antara dirinya dan keluarga," katanya.

Dari dalam. Anak-anak orang kaya terus menarikan narasi kemiskinan, penuh warna pelangi yang mereka curi dari langit, bahagia dan membara.

"Tapi mereka tak pernah merasakan hal itu. Kemiskinan itu. Mereka telah berbohong," kata anak tadi, basah dengan hujan dalam matanya.