TULISAN BARU



Di luar gedung, seorang anak kecil mendengar keributan hatinya. Kata-kata yang berserak itu, membumbung tinggi, pecah pada mikrofon-mikrofon, dinding-dinding, dan jidat-jidat teater.

"Tiket terlalu mahal. Seorang pengemis yang ingin menonton pertunjukkan, terjebak antara dirinya dan keluarga," katanya.

Dari dalam. Anak-anak orang kaya terus menarikan narasi kemiskinan, penuh warna pelangi yang mereka curi dari langit, bahagia dan membara.

"Tapi mereka tak pernah merasakan hal itu. Kemiskinan itu. Mereka telah berbohong," kata anak tadi, basah dengan hujan dalam matanya.



Pidie Jaya

Kubawa namamu dalam setiap derap kaki ini,
ibu yang melahirkan dan kota yang membesarkan.
Meski kau cambuk aku, seolah terusir sekian
jarak waktu, tetap dalam darah ini kau
harum kenanga. Lintas sejarah yang berlayar
di tubuhku. Meski busuk sekalipun,
kau adalah wangi bagi kehidupanku.

Aku terus saja mengingatmu. Merasakan betapa
jauh kau di dekap peluk ini. Sepi dan tergerus
oleh kesendirian. Sendangkan orang-orang
menanak nasi di atas tubuhmu. Tapi kau lapar
dan mencari-cari tempat untuk berteduh
dari banyak kebohongan; rumah gempa,
ladang cokelat yang sekarat, dan waduk jebol
yang belum diselesaikan, tapi para pejabat makin
berpoya-poya ke Jakarta.

Lihatlah. Betapa kurus gunung-gunung kita.
Nelayan menjerit terlilit mesin bot yang mati.
Petani kehabisan nasi di lumbung padi dan
toke-toke berpesta setiap minggu ke Medan.
Membawa jerih payah kita. Setiap minggu,
warung-warung kita kosong. Sebab rumah-
rumah pegawai ada di kabupaten lain.
Tempat yang membuat tubuh kita gigil dan meriang.

Lihatlah lapangan Kota Meuredu.
Kurus dan kering begini.
Sedang pejabat sehat dan muda.

JAKARTA, 2018





Pulang ke Masa Kecil

Di gerbang dadamu,
senja sedang mengamuk.
Kesedihanmu bangkit dari
wajah masa kecil. Buram
dan begitu patah. Kadang,
kau ingin pulang ke masa
kecilmu itu. Kampung halaman
di mana kekecewaan tak punya
harapan untuk tumbuh dalam
dadamu yang bau pagi.

Kau tak pernah berkhayal,
bahwa air terjun rindu telah
membuatmu begitu tenggelam
ke dasarnya. Kau saat ini sering
dibangunkan oleh kicauan rumput
di belakang rumah. Di mana orang-
orang dari jauh mengusir dingin
dengan kayu bakar kekhawatiran.

Kau memang takut. Tapi bisa
Kauhapus dalam beberapa tahun kemudian.
Kecuali kekecewaan yang menjalar di
tubuhmu saat ini; begitu tajam dan dengan
secara kasar seolah mengatakan,
kau lebih baik menorehkan pisau
ke leher sendiri. Sebab sudah
tak lagi dirindukan.

Kesiur angin membaca
kekecewaanmu. Maka dia terus
menamparmu dengan kabar-kabar
baik. Bahwa, kata dia, hidup
adalah guguran daun. Siapa saja bisa
terhempas ke tanah. Layu dan
terabaikan. Tapi, dia melanjutkan,
setelah kau berhasil memerangi dirimu
sendiri, mengapa kalah hanya dengan
sebuah kekecewaan?

Kau pun tertawa, dan, sedetik
kemudian, kau melumat semua
nyeri itu dengan meninggalkan
kekecewaanmu. Persis seperti
gugur daun;tapi kau tak terhempas
ke tanah, namun ke langit. Biru dan
begitu laut seperti luas dadamu. Dan
kau pun berlayar ke muara
masa depan.

JAKARTA, 2018




Bagaimana pun, puisi selalu menjadi ruang kesunyian bagi seseorang untuk menceritakan dirinya, hidup, kesukaan, bahkan hingga kebencian sekalipun. Puisi, meski masih ruang kecil dan pengap dalam kesusasteraan saat ini, ia tetap menjadi jembatan yang tak pernah terputus antara kata dan penciptanya. Ia akan selalu biak menyampaikan berbagai macam persoalan kehidupan orang lain, bahkan kehidupan penulisnya sendiri.

Saya selalu menjadi orang yang terkejut saat menemukan hal-hal baru, penyampaian yang segar, dan celoteh liar dari segenap puisi yang ditulis. Sebab, saya selalu kalah menetapkan diri, mengurusi kata, hingga membuat pembaca setidaknya mengatakan, bagaimana bisa ide ini terlintas? Saya akui, saya masih jauh dari panggang.

Pun begitu, saya banyak belajar dari berbagai puisi yang hadir ke tengah diri saya. Saya selalu mencoba mengakrabkan diri, meski kadang banyak sekali puisi saat ini hadir ke tengah-tengah kita yang secara tidak sadar telah menjadi bumerang, yang bila diperkenankan mengambil apa yang dikatakan Rendra dalam bait kedelapan Puisi Sebatang Lisong, itulah yang berulang lagi.

Jadi, pantas saja hingga saat ini puisi mendapatkan posisi ‘anak tiri’ dari masyarakat. Baik itu dari kalangan terpadang, akademisi, hingga penarik becak sekalipun. Puisi masih menjadi barang yang tak mampu merubah sesuatu ke arah lebih baik, dibandingkan puisi-puisi sekelas Chairil Anwar dan WS Rendra sendiri, yang terus berperang dengan wawasan-wawasan kemajuan.

Sewaktu seorang teman meminta saya, atau lebih tepatnya menanyakan, apakah menurutmu puisiku layak? Maka yang terlintas dalam pikiran ini adalah: kau sadar, tidak? Aku banyak sekali belajar dari puisimu. Ya, itu adalah jawaban klise sebenarnya. Tidak ada hubungan antara pembelajaran yang dapat dengan bagaimana pendapatku sendiri terhadap puisi yang bergerombol ditulis dan diproduksi hari ke hari.

Maka, apa yang kemudian menjadi jawaban adalah: Puisi selalu melaju dari kekuatan kognitif seseorang dalam melihat, merasakan, bahkan mendapatkan dampak bagi dirinya sendiri. Hal itu pula mendorong daya faktual dalam dirinya–lintasan bahasa—dan kemudian terbentuklah puisi-puisi dari berbagai frame yang majemuk—mungkin dipengaruhi pula oleh empiris seseorang—yang sedang dihadapinya. Misalnya, dari lelahnya perjalanan dari dan ke satu tempat untuk kepentingan besar kehidupan—keluarga—dan dirinya sendiri.

Hal itu juga tak dapat dipisahkan dari seseorang, bahwa ada semacam kilas balik dari dirinya yang kemudian membentuk bahasa lebih ketat dan lugas untuk menyampaikan pemikiran-pemikirannya dalam puisi. Dan hanya mereka yang telah lama berkecimpung dalam dunia katalah, akan mendapatkan porsi lebih dominan menemukan sekelimut bahasa—terlihat dari cara penyampaiannya puisinya—yang terus diasah dan diperebutkan dalam kepalanya.

Hingga kini, tiori bahwa bahasa adalah sesuatu yang privat bagi seseorang itu benar adanya. Ia tak akan meluncur begitu saja bila apa yang menjadi rahasia puisi dengan gamblang dapat diterjemahkan begitu saja, tanpa perlu merenungi isi puisi, lalu membaca kata perkata, hingga akhirnya mencapai pada kesimpulan yang absolut.

Tapi bagaimana pun privatnya bahasa, sebuah tafsir puisi akan melangkah dengan kesendirian. Tafsir bisa datang dari berbagai bentuk, berbagai cara dan sudut pandang; esai itu ditulis atas dasar bahwa seseorang ingin menulis dan terlepas dari segala bentuk tiori yang menyertainya, begitulah uangkapan yang mungkin dapat saya petik dari tulisan Arif Budiman, berjudul Esai tentang Esai yang terbit di Sinar Harapan, tahun 1982.

Oleh karena itu, saya mau membebaskan diri dari sekelumit hal-hal berat dalam memberi artian pada puisi-puisi. Sebab, kita saat ini butuh hal sederhana, meskipun kita menulis tentang diri sendiri, tapi memberikan efek  kepada orang lain, itu adalah sebuah pencapaian yang kongkrit atas perjuangan bahasa yang telah kita ciptakan.

Maka, saya menjawab, apa yang menjadi kegelisahan teman saya, bahwa, puisi-puisinya adalah mesin waktu, sebuah lensa untuk melihat diri sendiri, Jakarta, dan kelakukan masyarakat modern saat ini, yang tak sabaran, ingin memaki, dan lain sebagainya. Puisi-puisinya, yang kemudian dia beri judul misalnya Stasiun Manggarai, atau, Stasiun Juanda, adalah fragmen kehidupan yang saat ini kita lihat dari sudut privat seorang penulis puisi itu sendiri, Pringadi Abdi Surya.

Jadi, apa yang ditulis Pringadi, adalah bahan renungan, bahwa apakah kita juga menjadi binatang perempuan kita di rumah, bintang perusahaan, atau binatang nasfsu bagi diri kita sendiri. Untuk menjawab itu, kita patut membaca puisi-puisinya, di sini: Stasiun Juanda, dan Stasiun Manggarai sebagai bentuk bahwa apa yang terjadi pada kita, rupanya tak jauh beda yang dirasakan orang lain. Sama-sama merasakan hal sama, meski cara mengalaminya berbeda-beda.

Pring, puisi-puisinya lebih dari kata layak, lebih baik dari puisi-puisiku sendiri, luka-lukaku sendiri.



Sejumlah Pematung dari Jakarta dan Bandung menggelar Pameran Seni Patung Instalasi Karya Pematung Jakarta dan Bandung di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, Selasa 11 Desember 2018.
Acara yang dibuka oleh salah satu kurator sekaligus budayawan, Jim Supangkat Silaen itu menghadirkan 11 pematung antara lain, Agus Widodo, Alce Ully Panjaitan, Awan P Simatupang, Benny Ronald Tahalele, Bernauli Pulungan, Budi L. Tobing, Hardiman Radjab, Slamet Abidin, Teddy Murdianto, Yana W. Sucipto, dan Yeni M. Sastranegara.
Acara tersebut berlangsung sejak pukul 10.00 hingga 21.00 WIB. Selain menampilkan karya pematung, acara ini juga dihibur oleh grup musik Kelompok 12 Pas.
Selain itu, ada pula pembacaan puisi oleh @Edrida Pulungan dengan judul Merayakan Waktu.










Foto by: Pilo Poly


COT KE'ENG, 1991

di Cot Ke'eng, suara senin
meringkik dan deras, jatuh bagai
dini hari yang mendung

kau teringat wajah anakmu,
kecil dan imut, tapi kini
harus belajar tanpa ayah

di jalan-jalan, serdadu
sedang menertawakan
kampung halaman kita,
ujarmu

sesekali, mereka suka
jika suara bedil diledakkan
dalam mulut: lalu berdalih
pemberontakan

di luar, aroma pagi bau
seorang wanita bertubuh
merah, anyir dan memuakkan.
Sebab mengirim negara untuk
membunuh ayahnya sendiri.

seorang perempuan, kemudian melilitkan
kepalanya dengan hari yang putih. hari
yang seharusnya tumbuh dan
membesar; bukan dengan
dar der dor lalu ada
yang mati, lagi dan lagi.

di Cot Ke'eng, setiap hari
bendera kuning
ditancapkan dalam mata kami

JAKARTA, 2018


DI POS JAGA

Mereka datang setiap senin,
ketika luka kami masih dingin,
dan ketika semua lampu ketakutan
untuk menyala.

mereka datang dari berbagai
ibu dan bahasa. mata mereka
seterang jalan-
jalan kota, tapi membawa perangai
lanun dari laut. saat datang,
wajah mereka bagai november
yang basah, penuh dengan
hujan kengerian.

mereka datang sambil tersenyum,
sambil melemparkan gedebuk
di dada dan pinggang. sebab
setelah jerit bambu di ketuk,
belum juga ada laporan senin lalu; apakah gerak-gerik hutan
sudah dapat dibaca?

Senin berikutnya lagi,
pos jaga itu gemetar berkali-kali:

sebuah jam merasa murung pada jarum yang berputar. seperti
tak pernah tahu ada
kini yang tak pernah hadir
di masa lalu.

dan subuh, dan jam, seolah ingin
kembali ke ruang hampa, ke hutan
padat yang dulu bergerombol
di sini, sebelum kayu di tebang
dan dusun tumbuh di mana-mana.

subuh itu, sebutir peluru
menidurkan seorang lelaki, pulas
dan bagai tersenyum seolah berkata; oh Tuhan, kutitipkan anakku padaMu

JAKARTA, 201


KEKASIHKU

kurenungi wajahmu sedalam
sujud dan doa ini, sayang.
meski dalam dadamu
nama lain tumbuh
dan subur, hijau
seperti gunung
dan biru
seperti
laut.

kurawi juga namamu sejauh
perjalanan ini, kekasihku.
sebab hanya cara
itu yang kupunya,
kiat hentikan
ribuan perang
di lekuk
rantau
ini.

aku selalu tetap
mencarimu,
dalam diriku, sayang
meski juga tahu
kau ada di jendela,
tengah berbicara dengan
yang lain. sedang kehadiranku
hanyalah kamus, tempat
kata-katamu perlu dibenarkan.

aku padam, sayang.
tapi kau terus saja nyala
dalam
diri ini. menggebu
dan deras; persis hujan dalam
diriku.

terkadang aku ingin melupakan
semuanya, sayang. kecuali
kenangan yang tumbuh
bagai deretan rumah dalam
dada ini, menjalar ke urat
nadi seperti rindu sungai pada
perahu yang pulang dari kuala.

betapa berat memikul
namamu di pundak ini,
cintaku. setiap malam
rasanya tersesat di
dalam suaramu. kemudian
mabuk karena melihat kau
bagai terangnya mata pagi.

aku ingin kau membenciku saja,
sayang. agar aku dapat tidur
pulas dalam diriku sendiri.
sambil bermain dan bernyanyi di dalamnya. kemudian terjaga tanpa
pernah tahu kau ada di dalam
ribuan diriku, rinduku, dan
harapanku.

JAKARTA, 2018


PERGILAH

Aku tak menyangka, kau pergi dengan
luka seberat rantauku sendiri. betapapun
sudah begitu kuat cinta ini bagai
kebahagiaanku sendiri.

Masih segar wajahmu di teras bidang dada ini. Seperti aroma kerinduan yang singgah di pelabuhan, berharap pemudik
tak pulang dengan sia-sia.

Laut begitu tertib, sayang. Ombaknya
mengirimkan sinyal gigil ke tubuhmu. Sesekali dia meraung sederas hujan
memandikan hutan-hutan. Lalu kata-kata
mulai membentuk diri seterang matamu.

Ah. Seandainya kau tinggal lebih lama. Ingin kurantau seluruh jiwamu. Ingin kuobati seluruh riak sungai dalam matamu.

Ah!

JAKARTA, 2018


HANYA DENGAN MENCINTAIMU

Hanya dengan mencintaimu Tuhan,
aku tidak perlu duit, rumah mewah dan
mobil bagus.

Aku bisa kapan saja masuk kedalam rumahmu, meskipun aku datang dengan sendal jepit, dan badan penuh keringat.

Hanya dengan mencintaimu saja, Tuhan
aku merasa cintaku terbalas, lebih dari
yang kuinginkan dan harapkan.

Hanya dengam mencintaimu, Tuhan.
Maka cinta seberat apapun akan dapat kuarungi meski ombak badai menghantam.

JAKARTA, 2018


Terbit di Riau Pos, 9 Desember 2018

Sebagai penikmat kopi, saya selalu suka nongkrong barang 10 hingga 20 menit untuk sekedar nyicipi-nyicip kopi. Pilihannya, selalu jatuh pada Espresso. Pekat hitam kopi ini leluasa belaka membawa kita melek, dan lebih efektif mengusir kantuk yang dari subuh usai shalat sudah menggantung di pelupuk mata.

Seperti pagi ini, saya bersama Redaktur Budaya Banjarmasin Post, Pak Zul Faisal Putra menyempatkan diri singgah di salah satu tempat ngopi, yakni di Passer Senen Koffie, yang terletak di Pasar Jaya, Senen. Tepatnya di Bassement Blok III, No. B-176.

Awalnya, kami hanya berencana untuk membeli oleh-oleh, buah tangan yang akan dibawa pulang Pak Zul ke Banjarmasin. Namun, melihat lokasi Passer Senen Koffie akhirnya kami berhenti. "Ngopi dulu kita," ajak Pak Zul, bersemangat.


"Selamat datang, pak. Silakan," kata dua orang pemilik Passer Senen Koffie bersamaan. Lelaki dan perempuan itu terlihat ramah. Sesekali tersenyum sambil mengatur didih air dan keperluan olahan kopi.

Saya memesan espresso, sedang Pak Zul memesan americano. "Yang pesan espresso pagi-pagi biasanya kelas berat," kata pemilik tempat itu, menduga-duga.

Tapi benar saja dugaan Pak Andris, nama yang kemudian saya tahu bahwa memang saya suka minum kopi berat, terutama tanpa gula jika berteme kesempatan baik seperti ini.


Beberapa menit kemudian, kopi telah tersaji. Aroma espresso menguar di blok-blok sibuk Pasar Senen. Pelan-pelan, saya menyicip dengan pelan ras espresso ini.

Sambilan itu, pemilik warung sederhana bernuansa milenial ini, Pak Andris mengatakan, konon kalau nama warung Passer Senen Koffie yang dipilihnya karena selain terpengaruh dengan nama-nama kekinian, dia juga mengatakan kalau nama Passer itu sendiri adalah nama bawaan Pasar Senen tua jaman Belanda.

Jika sesekali ada waktu untuk berbagai keperluan, datanglah ke Pasar Senen. Kemudian, singgah pula di Passer Senen Koffie. Dijamin ngopinya asik. Sebab di Passer Senen Koffie menyediakan kopi Temanggung, kopi Bali, kopi Papuan Toraja, dan juga kopi Aceh!

Masalah harga? Jangan takut. Sebab harga di sini masih murah banget. Coba aja lihat sendiri: Cappucino Rp.12rb-15rb, Kopi Tubruk Rp.6rb, Latte Rp.12-15rb, Kopi Susu Rp.12rb, Americano Rp.7rb - 9rb, Espresso Rp.7-9rb, dan Long Black Rp.12rb.

Saya berfoto di depan gapura Selamat Datang Dermaga Penyengat, Kamis, 28 November 2018.


Waktu menunjukkan pukul 11.20 saat kami diantar ke pusat kota oleh supir Datok Haji Rida K Liamsi. Kami sengaja mau berleha-leha terlebih dulu di pusat kota sebab acara baru dibuka nanti malam, setelah isya di Kompleks Purna MTQ.

"Tidak ada jadwal jalan-jalan ke kota. Sebaiknya sekarang," kata Pak Rida siang itu.

Di hotel, baru kami berempat saja yang tiba. Jadi kami akhirnya memutuskan untuk pergi karena ini adalah momen langka. Apalagi, saya sendiri sudah terlanjur beli tiket PP. Begitu pula dengan teman-teman lainnya. Jadi tidak bisa menunda kepulangan.

Di belakang, suara Ade Novi menjerit, "Ikut-ikut," kata dia, kemudian masuk ke dalam mobil dan, mobil pun melaju membelah jalan-jalan di ke arah kota.

"Melihat geografis jalan-jalan di sini, saya teringat sabang, karena hampir sama daerahnya. Jalanannya penuh tanjakan di sana sini," kata saya kepada kawan-kawan.

Tapi, sang supir malah bertanya, "Sabang itu di mana, ya?"

Lantas saya pun menerangkan. Sabang itu adanya juga di Sumatera. Paling ujung Provinsi Aceh. Di sana, kata saya, juga ada pelabuhan. Di mana mobil-mobil dan motor dari luar negeri berhamburan di pusat-pusat kota. Anak-anak muda di sana mengendari mobil sekelas BMW, Mercedez-Benz, Ford, Jaguar, bahkan Ferrari!

"Kalau sempat main ke Sabang, mobil sekelas Jaguar dan mobil mewah lainnya boleh disewa seharga Rp. 200 saja," ujar saya.

"Saya baru tahu kalau Sabang di Aceh," kata supir itu sambil memacu mobil ke arah Pelabuhan Penyengat.

"Bang, saya berhenti di kantor Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan, ya. Tahu, kan?" tanya Pringadi.

Dia berhenti di sana untuk bertemu temannya, sekaligus mau meminjam motor karena kami punya jadwal lain dengan memanfaatkan waktu untuk pergi ke Dompak, Tanjung Siambang. "Katanya, pasir putih di sana bagus. Lautnya juga biru," ujar Pringadi sebelumnya lewat pesan Whatsapp.

Sampai di pelabuhan, saya, pak Bambang Widiadmomko dan Ade Novi langsung menyusuri jalananan di sekitar Pelabuhan Penyengat. "Saya sudah pernah ke sini, satu Minggu dalam sebuah kegiatan," kata Pak Bambang.

Lantas, kami diajak menuju gapura yang bertuliskan Selamat Datang Dermaga Penyegat. Warna khas Malayu, kuning dan hijau ditambah cokelat terlihat gapura itu gagah terpacak.

"Kita makan dulu sambil menunggu Pringadi," kata saya kemudian.

Kebetulan, di dekat gapura itu ada warung makan yang baru saja mengangkat berbagai menu sayuran dari kompor. Jadi saat itu nasi dan segala lauk masih panas. Asap merebak dalam warung. Aroma khas bumbu Melayu menabrak-nabrak perut.

"Kita selesai makan, baru nanti Prungadi sampai," ujar Ade Novi. Ia tampak lahap. Pak Bambang Widiadmoko juga terlihat khusuk dan serius melahap makanan. Maklum saja, rupanya pukul menunjukkan 12.00 WIB. Pantas kami lapar!

Apa yang disebutkan Ade Novi benar saja. Berselang beberapa menit. Pringadi sampai. Dia langsung memesan makanan dengan porsi paling jumbo. "Lapar, bro!" kata Pringadi.

Usai makan, kami berjalan ke arah dermaga. Melihat ke dalam dermaga seolah melihat dalam diri sendiri. Dermaga yang akan membawa kita ke pulau Penyengat itu tampak sepi. Kapal-kapal tidak ada yang bersandar. Laut dipenuhi dengan sampah botol air meneral. Bubuk kayu, dan tumpukan plastik, bergerombol seolah ikan-ikan berenang.

"Kurang dirawat ya," kata saya kepada Pringadi.

Sewaktu berbalik ke tempat awal kami masuk, saya sempat memotret sebuah bingkai lukisan Datok Haji Rida K Liamsi tengah bersandar di meja. Sedang di sampingnya, senyum lebar Dahlan Iskan seolah menepis pikiran saya bahwa dermaga ini kesepian. "Mungkin jadwal berangkat bukan pada saat ini, makanya sepi. Atau sudah berangkat pas aku sampai," kata saya pada diri sendiri.

Sebagai pelepas rasa penasaran itu. Kami kembali menyusuri jalan-jalan di seputar Dermaga Penyemangat dan berhenti di salah saru warung kopi tradisional di sana. Kami memesan kopi. Makanan-makanan kecil dihantar ke meja.

Di warung itu. Orang-orang tampak serius memgobrol satu sama lain. Hanya beberapa anak muda saja yang sibuk dengan ponsel masinh-masing.

Sebelum beranjak pergi, saya dan pak Bambang meninggalkan warung itu sebentar untuk mencari rokok lokal Tanjung Pinang yang katanya dijual hanya Rp. 7000 /bungkus. "Rokok ini tidak berbandrol dan hanya dijual di sini saja," kata Pak Bambang yang sudah duluan pernah membeli.

Benar saja. Saat tiba di sebuah warung, rokok-rokok dikeluarkan. Paling mahal Rp. 12.000 saja. Saya wakru itu membeli lima bungkus. Pak Bambang juga lima bungkus. Kami keluar dari warung itu sambil tertawa.

"Benar kan kata saya," ujar Pak Bambang seolah begitu bahagia karena membuktikan apa yang dia ucapkan sendiri.

Bersambung ...
Saya, Pak Bambang Widiadmoko, Ade Novi dan Pringadi menyempatkan diri ngopi di salah satu warung tradisional Kep. Riau.


Langit bersih saat Lion JT-620 membelah udara Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Raja Haji Fisabilillah, Bintan, Kepulauan Riau. Di atas langit, beberapa kali pesawat sempat bergoyang hebat karena menabrak bongkahan awan dan terasa menegangkan. Tapi, entah kenapa saat itu saya cuek saja dengan keadaan. Tidak terlalu khawatir seperti kali-kali lalu saat berpergian ke daerah lain. Biasanya, jantung saya akan dag dig dut hebat sambil melafalkan berbagai ayat yang saya ketahui.

Perjalananan antara Jakarta menuju Bintan, Kepulauan Riau ditempuh satu setengah jam penerbangan. Biasanya, saat pulang ke Aceh perjalanan lebih panjang. Jika pulang pada bulan November dan Desember, biasanya saya harus membekali diri dengan membuang kekhawatiran dalam dada yang seperti ingin melompat ke luar. Sebab, perjalanan panjang itu akan membuat pesawat berkali-kali mendzikirkan diri di atas udara karena bongkahan awan lebih banyak dan besar-besar.

Saya take off bersama teman-teman pukul 8.35 WIB. Di sana ada Pringadi Abdi Surya, Ade Novi, dan Bambang Widiadmoko. Kali ini, kami berempat akan menghadiri Festival Sastra Internasional Gunung Bintan (FSIGB) 2018 di Bintan.

Perhelatan acara ini dilaksanakan setelah sebelumnya diadakan pengumpulan puisi sejumlah penyair baik dari Indonesia, Singapura, dan Malaysia. Buku antologi tersebut kemudian diberi judul Jazirah, Jejak Hang Tuah.

Tiba di Bandara Raja Haji Fisabilillah, kami telah ditunggu oleh salah satu penyair asal Tanjung Pinang, yakni Yuanda Isha yang juga menjadi salah satu panitia FSIGB 2018. Dia adalah penulis berbagai buku puisi seperti Seribu Satu Puisi, Perempuan Menulis, Sejak Kau Ajari Aku Membaca, Sergam, dan lain-lain.

“Selamat datang, ya, di Tanjung Pinang,” kata Yuanda menyambut kami.

Di luar, orang-orang tampak sibuk. Koper dan tas silih berganti keluar dan masuk dari dan ke dalam Bandara. Di pintu kedatangan, salah seorang panitia lain juga menunggu. Saya lupa nama dia siapa. Tapi wajahnya juga bersikap ramah. Tersenyum dan seperti hendak berkata, “Selamat datang di Negeri Hang Tuah, para penyair!”

Dari Bandara, panitia memacu kendaraan roda empat menuju Hotel Aston, Tanjung Pinang, yang terletak di Jl. Adi Sucipto, KM. 11, Batu IX. Dari arah Bandara, jalan-jalan tampak lenggang. Beberapa menit kemudian, kami sampai di lobi hotel.

Di sana, tampak Datok Haji Rida K Liamsi dengan senyum lebar menyambut kami, penuh keramahan sebagaimana puak-puak Melayu menyambut tamu.

“Pilo, selamat datang, ya!” kata dia, tersenyum lebar.

Datok Ridak K Liamsi adalah penggagas kegiatan FSIGB 2018. Dia bersama Pemprov dan Dewan Kesenian Kepri bahu membahu mengadakan kegiatan sastra. Di lain sisi, Datok juga salah satu tokoh berpengaruh di Tanjung Pinang.

Ini adalah hari pertama saya di sini. Sesudah registrasi, kami berempat tinggal menunggu pembagian kamar hotel.

Sebelumnya, saya bersama Pringadi Abdi Surya jauh-jauh hari sudah saling berkabar tentang kegiatan FSIGB ini. Jadi, kami memutuskan agar satu kamar saja berdua.

“Sekamar bareng aku aja nanti mintanya ya,” kata Pringadi sebelum berangkat beberapa waktu lalau lewat pesan Whatsapp.

Tapi, saat dia mengabarkan ingin datang ke acara FSIGB, saya menjadi takjub disertai keheranan. Sebab tidak pernah rasanya seorang Pringadi akan hadir di acara sekelas ini.

“Tumben Pring mau datang ke acara begini,” kata saya dalam hati.

Kata-kata ini juga saya utarakan kemudian saat bertemu Pring di Bandara sebelum take off. Malamnya, Pring akhirnya menjawab pertanyaan saya, kenapa dia mau bela-bela datang ke FSIGB di status Facebooknya.

“Bisa dibilang, Om Hasan Aspahani (kiri) adalah guru menulis puisi pertamaku. Tapi kami tak pernah bertemu, tak pernah bertukar pesan. Saya hanya membacanya dan pemikiran yang tertuang dalam tulisan-tulisannya. Dan ini pertemuan pertama kami. Hal ini menjadi jawaban atas pertanyaan Pilo, Tumben, kenapa kamu mau datang ke acara seperti ini, Pring? Biasanya nggak pernah datang. Ya, karena aku pengen bertemu Om Hasan."

Bersambung ...