TULISAN BARU






Tak Pernah Berbatas
buat Ucok

Aku digigit mimpi, terluka dan begitu
berdarah. Persis air laut yang membawa
ingatanmu. Membawanya bersama penuh
kehilangan dan keterasingan. Saat kau pulang,
kau telah melupakan dirimu yang penuh
gelora Teuku Umar.

Di jalanan, kutemukan kata-kata berserak,
penuh dengan lumpur dari laut. Kau ingin
memungutnya, tapi kukatakan tidak, sebab
kutahu betapa jarak sudah gempa dan gelombang
telah membawamu hanyut.

Kau kerap berteriak, ibu, ibu dan ibu
di setiap matamu bersinar seperti rembulan.
Tapi kau sendiri tak pernah selamat dari
ingatanmu. Aku sering bertanya, kemana
ingatanmu pergi. Dan selalu saja jawabanmu
adalah; takdir telah mencurinya darimu.

“Rumahku hancur, hatiku luka, dan ibu
jadi syuhada,” katamu, hampir seperti
menjerit dan setengah tertawa.

Aku tahu itu adalah kenangan yang begitu
Subur dalam dadamu; ibu terlepas, dan
Keponakan tak mampu kau selamatkan.
Saat tsunami, matamu berkelayap
mencari-cari Tuhan sedang di mana.

Jakarta, 2019



Diombang-ambing Laut
buat Susan

Sebab hujan cintamu tak pernah sampai
pada kemarau dadaku, kutinggalkan
tanah perjalanan ini sebagai kekal
yang tak akan dilumat kenangan.

Kulepas pula kau di kolam tenang
dalam dada ini. Agar kau mampu
menerjemahkan betapa dinginnya
tubuhku menanti kau kembali jadi
dini pagi.

Tubuhku, yang hanya dihempas angin
gelombang, tentu tak seluka jiwamu
yang hingga kini tak mampu kembali,
dan kemudian membersihkan lumpur
berbagai peristiwa yang tumbuh
dalam tubuhmu.

Saban malam, kurekahkan doa dan harap ini,
meskipun kutahu tak mungkin laut membawa
tubuhmu ke darat lagi. Tak mungkin laut
mau meludahmu lagi. Takdir, kataku,
telah menyelesaikan tugasnya. Sedang
kita, baru saja memulai sebuah cerita.

Jakarta, 2019



Tugu Muda

Bibir laut. Hampir menjilat rel
arah Weleri. Memaksa tanah
pertanian dan hutan pinus
merapat kepada sunyi. Batang-
batang pisang, dan bibit-bibit
jagung, berpendar cahaya
kuning debu: persis hujan pipih
dan rel yang kumal dihantam
air dari rawa.

Jika saja tak ada tubuhmu,
Cikampek, dan tegar dadamu
Jawa Barat, mungkin aku tidak
tahu apakah akan sampai ke
lubuk Semarang. Kemudian
menampung banyak gemerlap
lampu dan membelai berbagai
pariwisata yang begitu kuat
dipasak sejarah.

Di kota ini. Tugu muda tegak
menghadap Lawang Sewu, dan
menjadi tempat bagi orang-orang
melepaskan diri dari berbagai
dokumen kantor dalam kepala,
yang seperti berteriak tak ada habisnya.

Di Hans Kopi, aku duduk saat
malam menjatuhkan puluhan senja
yang sudah pudar dari jam delapan
tadi lewat. Sedang besok sudah menunggu.
Waktu begitu cepat, bukan?

Semarang, 2019




Litera.co.id, 25 Maret 2019
Peserta FSB saat mengikuti seminar di FKIB Bahasa, Universitas Bengkulu 


Untuk kedua kalinya, saya datang ke Bengkulu untuk merayakan Festival Sastra Bengkulu (FSB) 2019 yang penuh gelora muda, motivasi, dan dukungan kuat dari berbagai pihak, khususnya dari Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah, Bekraf, FKIP Universitas Bengkulu, Djarum Fondation dan disiarkan live oleh RRI Bengkulu ke seluruh Indonesia.

Acara FSB 2019 diselenggarakan oleh Imaji Indonesia dengan menghadirkan berbagai penyair dan pemateri handal seperti Joko Pinurbo, Kurnia Effendi, dan Wacana Minda (Malaysia).

Dalam pidatonya, Gubernur Bengkulu sungguh mengapreasiasi kegiatan FSB 2019 tersebut, dan menganggap bahwa kegiatan ini harus dipertahankan agar terus berlanjut, sehingga Bengkulu punya bibit-bibit muda yang egaliter. Apalagi kegiatan ini adalah gelaran kedua yang berhasil digelar.

"Artinya, gelora kepenulisan di Bengkulu harus terus didukung," kata dia saat membuka kegiatan itu dalam Gala Dinner dan Pembukaan FSB 2019 di Pendopo Gubernur, Jumat, 14 September 2019.

Kegiatan Festival Sastra Bengkulu (FSB) 2019 tersebut ditutup dengan doa dan harapan agar peserta yang telah mengikuti berbagai agenda FSB tidak berhenti di situ saja. Setelah mengikuti rangkaian kegiatan, peserta diharapkan dapat membangun komunikasi secara intens dan konsisten menulis. Terusma bagi peserta yang berasal dari Provinsi Bengkulu sendiri.

Dalam penutupan, pihak sponsor dari Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mengucapkan selamat kepada seluruh peserta yang telah lolos kurasi FSB 2019 sehingga karyanya telah termaktub dalam buku Antologi Perjumpaan dan diluncurkan saat malam Gala Diner bersama Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah.

Kegiatan itu juga melahirkan Forum Penulis Muda Bengkulu (FPMB), yang nantinya akan menjadi wadah bagi 28 peserta yang hadir ke acara tersebut. Semoga apa yang digagas ini menjadi pintu masuk bagi kebangkitan literasi Bengkulu, khususnya anak muda untuk menulis dengan serius, menggali dengan teliti, dan kemudian melahirkan karya yang fenomenal.

Dalam sebuah testimoni, salah seorang peserta bernama Tessa Nova Rahmanda mengaku bahwa ini adalah karya pertamanya yang berhasil lolos kurasi dan diterbitkan dalam antologi puisi Perjumpaan. Puisi tersebut, katanya dikirim menjelang deadline penerimaan naskah FSB. Namun siapa sangka, naskah perdana tersebut terpilih dari ratusan naskah puisi yang masuk.

Panitia memilih 28 penulis asal Bengkulu yang terdiri dari berbagai latar belakang profesi, salah satunya adalah Tessa. Dia lahir di Air Periukan, 4 November 2002 dan satu-satunya peserta paling muda FSB 2019.

"Saya bersekolah di SMA Negeri 3 Seluma, Kelas XII IPA," kata dia malu-malu saat acara penutupan di Pulau Tikus, Bengkulu, Minggu 15 September 2019.






Tunas Muda Bumi Raflesia
Sahabat sastra,
Peserta Festival Sastra Bengkulu, selain dari Nusantara (Indonesia dan negeri tetangga), kami memberi porsi yang besar bagi para penulis dari Bumi Raflesia. Sesungguhnya untuk para penulis Bengkulu-lah kegiatan ini kami adakan. FSB adalah ruang untuk mempertemukan aneka gagasan, saling menyerap, saling memperkuat kapasitas, demi kegemilangan dunia sastra di Bengkulu pada masa mendatang. Dan harapan itu terutama pada anak muda. Maka itulah, kami memberi porsi sangat besar bagi anak muda.

23 Karya Pilihan Penulis Muda Bengkulu
Puisi Pilihan Kurator
1. Ahmad Zikri Dwiatmaja,
Asal Kaur, (Mencari Sebuah Arti)
2. Hernandes A Putra
Asal Merigi (Derap Sunyi)
3. Isna syifa Azizah,
Asal Curup (Koran-koran)
4. Indah Larasati, Asal Kota Bengkulu (Tentang Payung yang Bergelantungan di Taman Kota)
5. I Run (Khairunissa),
Asal Kota Bengkulu (Tanya Bulir)
6. Kiang Santan,
Asal Kota Bengkulu (Setapak Jalan Kenangan)
7. Muhamad Arby Hariawan,
Asal Kota Bengkulu (Jelaga)
8. Muhammad Ilhamsyah,
Asal Kota Bengkulu (Balada Anak-anak Pesisir
9. M. Rohinu Mubaroka,
Asal Kota Bengkulu (Isyarat Senja)
10. Meinariyanti Budhi Satriani SB,
Asal Kota Bengkulu (Diksi Sederhana)
11. Pheni Hastuti,
Asal Kota Bengkulu, (Sosok Senja)
12. Robi’ah AL Adawiyah,
Asal Kota Bengkulu, (Hujan)
13. Rinjani,
Asal Kota Bengkulu, (Tanpa Asas)
14. Restu Tria Anugrah,
Bengkulu Utara, (Nyali Setangkai Mawar)
15. Regina Insi,
Asal Bengkulu Utara (Catatan Pertama)
16. Shafiq Khaqiqi,
Asal Bengkulu Tengah, (Kau dan Kopi)
17. Tessa Nova Rahmanda,
Asal Kota Bengkulu (Terbujur Kaku)
18. Yusnita Alfalah Setia,
Asal Kota Bengkulu, (Jalan Di Ujung Senja)
Novel Pilihan
1. Farisa Ravana,
Asal Bengkulu Selatan (Dongeng Cinta)
2. Hamei Rein,
Asal Kota Bengkulu (Syahadat 5 Waktu)
3. Sara Paramita Sari,
Asal Kota Bengkulu (The Beginning: Perjalanan Mencari Lautan Kembali)
Esai Pilihan
1. Yedija Manullang,
Asal Kota Bengkulu (Menulis Dalam Rangka Merawat Peradaban Serta Wadah Di Dalam Perlawanan)
Cerpen Pilihan
1. Aiyu A. Gaara,
Asal Kota Bengkulu (Pesta Topeng)
Undangan Khusus Penulis Bengkulu
1. Emong Soewandi
2. Elvi Anshori
3. Herman Suryadi
4. Amrizal
5. Eko Petra
6. Rida Kedum
7. Yoesni S. Hidayat
8. Rosi Mardiansyah
9. Erlina indrawati
10. Denis Kurniawan
11. Ahmad Khoirus Salim
12. Ira Diana
13. Maya Pransiska





Sahabat Sastra,

Terima kasih atas perhatian dan partisipasi para sahabat untuk mengikuti Festival Sastra Bengkulu (FSB) 2019 – Bengkulu Writers Festival (BWF). Kami mohon maaf pengumuman kurasi sempat tertunda karena begitu banyak naskah yang masuk.

Kurator harus membacanya dengan seksama dan kemudian memberi nilai terhadap masing-masing karya itu. Nilai itu lalu dikumpulkan dan panitia membuat tabulasi dan ranking. Akhirnya muncullah 35 puisi pilihan itu.

Perlu kami sampaikan, sistem kurasi yang kami terapkan mungkin belum lazim dalam proses kurasi festival sastra. Pertama, kami menerapkan sistem penjurian. Kedua, nama penulis kami hilangkan dari naskah yang dikirim ke kurator. Jadi kurator tidak tahu puisi atau karya siapa yang mereka nilai. Ini semata-mata kami lakukan untuk lebih memperkuat faktor objektivitas. Kurator pun tidak akan sungkan-sungkan dalam melakukan penilaian.

Selain 35 Puisi Piilhan yang penulisnya otomatis diundang untuk mengikuti FSB-BWF, panitia bersama kurator juga memilih 15 Undangan Khusus bagi orang yang kami anggap patut diundang secara khusus ke acara ini.

Pertama, adalah orang-orang yang secara konsistensi dan dedikasi sudah teruji dalam bersastra. Kedua, anak-anak muda yang kami anggap potensial atau memiliki banyak kemajuan dalam berkarya. Ini adalah bentuk apresiasi kami (panitia dan kurator) kepada mereka.

Selain itu, kami umumkan pula Esai, Cerpen, dan Novel di bawah ini.

Jakarta, 15 Agustus 2019
Salam sastra penuh cinta.

WILLY ANA
Ketua FSB-BWF

35 PUISI PILIHAN FESTIVAL SASTRA BENGKULU

1. Monografi Malam dan Sunyi (Ahmad Dzikrom Haikal)
2. Chao Praya (Bambang Widiatmoko)
3. Sepercik Mimpi Kali Malang (Budhi Setiawan)
4. Ratap Petalangan (Darwin)
5. Suara Burung-Burung Julang (Body Usna’at)
6. Sajak Untuk Marlena (Masmuni Mahatma)
7. Di Hari Kematian Seorang Penyair (Muhammad Daffa)
8. Lelaki yang Meraba Kabut (Nuriman N Bayan)
9. Benteng Malborgh (Mintarsih Mimin)
10. Ritjsttafel (Riski Amir)
11. Ibu Samudera (Indri Yuswandari)
12. Lombok Nol Scala Richer (Sindu Putra)
13. Larung Kegelisahan (Adhimas Prasetyo)
14. Di Kiarasari itu Revana (Aflaha Rizal)
15. Dano Lamo (Dwi Rahariyoso)
16. Gadis Italia yang Memeluk De Burcht (Ibe S. Palogai)
17. Daun Kehidupan (AC Jaffrie)
18. Di North Quay (Anisa Isti)
19. Pattauang (Diansi)
20. Airmata Api Anak-anak Yaman (Wirja Taufan)
21. Amsal Rindu Sungai-sungai Jauh (Lailatul Kiptiya)
22. Luka Selat Sunda (Asqo L. Fatir)
23. Balak Limo (Iswadi Bahardur)
24. Di Alas Tubir (Jusiman Desirua)
25. Risalah Trowulan (M Firdaus Rahmatullah)
26. Ibu Konda: Tinatang Linamboan, Anak yang Ia Lepa (Aly D Musyrifa)
27. Kenangan di Sungsang (Dian Rennuati)
28. Tungku di Rumah Ibu (Ardi Susanti)
29. Mon Etoile (Liswindio Apendicaesar)
30. Rantau (Nuzul Aini Ramadhani)
31. Hari Selendang Nasional (Feni Efendi)
32. Petilasan Kecil Para Penyair (Binhad Nurohmat)
33. Bulan Separuh (Emi Suy)
34. Membendung Kekhilafan (Nasir Ali alias D Kelana)
35. Laksana Teluk (CT Nurza)

UNDANGAN KHUSUS

1. LK Ara (Di Setiap Lembar Daun Teh)
2. Rida K Liamsi (Mengingat Raffles Mengingat Bangka Hulu)
3. Fikar W Eda (Jalan Bunga)
4. Wayan Jengki Sunarta (Solilokui)
5. Mezra P (Foe Mbura)
6. Isbedy Setiawan (Sikin Lili)
7. Kunni Masrohanti (Kapanpun, Inilah Tanah Kami: Anak-anak Sungai)
8. Syarifudin Arifin (Beras Genggaman)
9. Aslan Abidin (Saat Musim Tanam Tiba)
10.Wacana Minda (Malaysia)
11. Nanang Suryadi (Rafflesia Arnoldi Bagi Louis Auguste Deschamp)
12. Iman Sembada (Before Night)
13. Okta Piliang (Tabiat Rantau)
14. Mahrus Prihany (Di Lebong, Kau Telah Menjadi Milik Orang Lain)
15. M Raudah Jambak (Syair Sajadah Syair Tanah Patah)

7 ESAI PILIHAN FSB-BWF

1. Penulis Milenial di Era Media Sosial (Muhammad Subhan)
2. Sayup-sayup Suara Penulis Muda: Sebuah Tinjauan Awal (Muhamad Rallie Rivaldy)
3. Anak Muda Bengkulu, Menulislah! (Bambang Widiatmoko)
4. Menulis, Iman dan Galau (Matdon)
5. Puisi Konseptual dan Penulisan Tidak Kreatif (Wahyu Heriyadi)
6. Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal (Zaki Fahrizal)
7. Komunitas Sebagai Ideologi dan Agen Kendali Konflik dalam Perkembangan Sastra Indonesia (Sartika Sari)

12 CERPEN PILIHAN FSB-BWF 2019

1. Bougenville (Reani Retno)
2. Bukan Pring Sedaphur (Impian Nopitasari)
3. Kampung Monyet (Aris Kurniawan)
4. Sebelum dan Setelah Kau Sibuk Mengemas Air Matamu Sendiri (Dhani Susilowati)
5. Si Lidi Pemesan Peti Mati (Farras Pradana)
6. Perjumpaan di Wakhan (Wendy Fermana)
7. Cinta Dalam Secangkir Sanger (Ayi Jufridar)
8. Tuhan yang Beristirahat dalam Bilik (Gregorio Surya Abdi Julianto)
9. Sejak Saat Itu Kakek Berhenti Melaut (Nisa Ayumida)
10. Aku Masih Mencintaimu dan Aku Benci Pertemuan Ini (Andi Makkaraja)
11. Dendam Tak Sudah (Vivin Elviriana)
12. Marahnya Perempuan (Hera Gusmayanti)

8 NOVEL PILIHAN

1. Arkipelago (Emji Alif, Jakarta)
2. Sialang Mencari Rimba yang Hilang (Eko S. Ayata, OKI Sumatera Selatan)
3. Babad Kopi Parahiyangan (Evi Sri Rezeki, Bandung )
4. Tarian Jiwa (Em Ali Akbar, Jambi)
5. Pembebas Sengketa (Yuditeha, Solo)
6. Tegar (Umar Zein, Medan)
7. Pendekar Sendang Drajat: Pendekar Melayu Menjelajah Tanah Jawa
(Viddy Ad Daery, Lamongan)
8. Orang-orang Gila (Hans Gagas, Solo)

10 KARYA TERBAIK

1. Perjumpaan di Wakhan (Cerpen Wendy Fermana, Sumatera Selatan)
2. Bukan Pring Sedaphur (Cerpen Impian Nopitasari, Solo)
3. Bougenville (Cerpen Reani Retno, Medan)
4. Di Kiarasari itu Reveana (Puisi Aflaha Rizal, Bogor)
5. Larung Kegelisahan (Puisi Adhimas Prasetyo, Bandung)
6. Rijsttafel (Puisi Riski Amir, Sidoarjo, Jawa Timur)
7. Penulis Milenial di Era Media Sosial (Esai Muhammad Subhan, Padangpanjang)
8. Sayup-sayup Suara Penulis Muda: Sebuah Tinjauan Awal (Esai Padel
Muhamad Rallie Rivaldy, Depok)
9. Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal (Esai Zaki Fahrizal, Serang, Banten)
10. Arkipelago (Novel Emji Alif, Jakarta)

3 PENULIS YANG DAPAT SUBSIDI TRANSPORT

1. Wendy Fermana, Sumatera Selatan
2. Aflaha Rizal, Bogor
3. Muhammad Subhan, Padangpanjang

Kurator:
1. Kurnia Effendi
2. Iyut Fitra
3. Iwan Kurniawan




Pertemuan Penyair Nusantara (PPN), XI 2019 di Kudus, Jawa Tengah, dari Jumat, 28 hingga Minggu, 30 Juni 2019 adalah event sastra paling bergengsi yang saya ikuti. 

Event yang mengetengahkan Persaudaraan dan Kemanusiaan ini menghadirkan para penyair baik dari Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, dan Brunei Darussalam terdiri dari 46 penyair dari Jawa Tengah, 32 penyair nasional, 6 penyair dari Malaysia, 7 penyair dari Singapura, 6 penyair dari Thailand dan 4 penyair dari Brunei Darussalam. 

Temu penyair ini sendiri sejatinya telah dilaksanakan sejak tahun 2007. Artinya, telah 11 tahun PPN diadakan dengan segala kelebihan dan kekurangan. 

Tentu saja jika berbicara kekurangan, tak ada yang sempurna dalam setiap pagelaran sastra di Indonesia. Sebab belum sepenuhnya pemerintah Indonesia mau peduli terharap kesusasteraan. Itu terlihat dari begitu susahnya birokrasi memberikan fasilitas kepada para penyair yang hendak mewakili daerahnya masing-masing.

Pun demikian, tak semua pula penyair-penyair ini selalu mau berharap kepada pemerintah. Mereka muak, katanya dan kadung membesarkan hati untuk merogoh kocek sendiri jika hendak mengikuti event sastra.

Hingga saat ini, berbagai diskusi juga telah dilakukan untuk mencari formula agar pemerintah daerah benar-benar mau peduli kepada mereka. Tapi lagi-lagi, ketika ada event, mereka harus rela dengan pernyataan yang sama bahwa pemerintah tidak punya anggaran untuk itu. Menyedihkan? 

Padahal, sumbangsih para penyair ini perlu dikembangkan sebagai bentuk penghargaan untuk kebudayaan, terutama kesusasteraan. Terlebih betapa bobroknya pula pendidikan kita saat ini. 

PPN XI Kudus, saya kira adalah mata rantai kebuntuan kita selama ini. Event ini adalah mata air yang begitu melegakan di tengah kondisi Indonesia yang serba amburadul ini. Itu sesuai pula dengan puisi yang dibacakan D. Zawawi Imro, berjudul Tanah Sajadah.

"Agar Indah yang indah semakin damai dan indah
Tanah air adalah sajadah
Siapa mencintainya
Jangan mencipratinya dengan darah 
Jangan mengisinya dengan fitnah, maksiat, dan permusuhan
salah satu penyair," ucap dia di atas Panggung Penyair Asia Tenggara.

Untuk itu, perlu kiranya kegiatan sastra ini tidak saja didukung oleh berbagai perusahaan swasta seperti halnya dari Bakti Budaya Djarum Fondation, tapi juga pemerintah, DPR RI terutama Komisi X, yang membidangi Pendidikan dan Kebudayaan, jangan hanya pintar bagi-bagi proyek dan mengambil keuntungan untuk diri sendiri.



Jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB tapi bis yang saya pesan sejak dua hari lalu di #traveloka belum sampai. Saya memesan bis #POTransZentrum dari Semarang menggunakan aplikasi tersebut.

Di sana, tertera jam keberangkatan pukul 17.00 WIB di #AgenPoTransZentrum di Jalan Majapahit, No 377, Gemah, Pendurungan, Semarang dengan nomor pemesanan X-O8FLV0.

Saya paham bahwa pasca arus balik, banyak bis yang kelabakan karena pesanan yang membuldak, ditambah tiket pesawat mencapai 2jt jika dibeli pas hari H berangkat.




Namun, yang disayangkan adalah pelayanan yang amburadul dari kedua belah pihak, baik dari pihak #traveloka yang tak dapat dihubungi hingga pihak #AgenPoZentrum yang seolah tidak dapat bertanggungjawab atas pesanan yang dimiliki oleh penumpang.

Sebagai pengguna aplikasi #traveloka, saya belum pernah sekecewa ini. Bayangkan dari pukul 16.00 WIB menunggu di #AgenPoTransZentrum, hingga jam segini (pukul 22.11 WIB) kami sebagian penumpang belum mendapatkan kepastian.

Dari Zentrum SR-1, mau tidak mau kami dipindahkan ke bis lain, #BisLangsung, katanya bukan #AgenPoTransZentrum sesuai dengan pesanan kami melalui aplikasi #traveloka. Begitu pula dengan puluhan penumpang lainnya yang terus dioper dari MK-4, MK-3, ke ZE-3 dan sebagainya.




Tidak bisa dielak. Hampir semua penumpang yang tumpah di #AgenPoTransZentrum di Jalan Majapahit, No 377, Gemah, Pendurungan, Semarang adalah penumpang yang membeli tiket di #traveloka.

Bahkan Amir, salah satu penumpang yang akan ke Jakarta memilih untuk membatalkan kepulangangannya ke Jakarta bersebab tidak ada kejelasan keberadaan bis yang berangkat ke Jakarta.

"Wes muleh ea ke rumah. Ora jelas iki bis ne," kata dia agak kesal dan melenggang pergi meninggalkan lokasi bersama istri.

Sampai pukul 22.22 WIB, masih ada dua bis yang merapat di depan #AgenPoTransZentrum di Majapahit. Dua bis itu hanya memuat beberapa penumpang yang tujuannya ke Merak dan Cilengsi. Masih ada puluhan kepala yang masih menunggu.



"Bis Langsungnya wes di Demak, mas," kata Riri, salah seorang perempuan yang menangani para penumpang menggunakan toa. Ia sedari pukul 17.00 WIB sudah datang dan memberikan info terkait bis yang akan memberangkatkan penumpang ke Jakarta.

Meski sudah memastikan kedatangan bis, namun bis yang katanya sudah di Demak (Bis Langsung) belum juga sampai di #AgenPoZentrum di Majapahit. Salah seorang penumpang lainnya, yang turun di Grogol, Jakarta juga berang bukan main. Dia sampai membanting tas yang di bawanya. "Sudah jam 11 malam ini loh. Mana mobilnya," kata penumpang bernama Suryadiono tersebut.

#AgenPoZentrum di Majapahit mengakui, baru lebaran ini pihaknya mendapatkan banyak orderan dari #traveloka. Katanya, pemesanan menumpuk dari #traveloka. "Numpuk mas. Tapi dengan keadaan crowded ini, kami memastikan semua penumpang berangkat," ujarnya dengan wajah penuh peluh dan kemerahan.

Berselang beberapa menit, #BisLansung yang menggantikan Zentrum SR-2 akhirnya merapat di #AgenPoZentrum di Majapahit. #BisLangsung tersebut akan membawa puluhan penumpang yang sedari pukul 17.00 WIB menunggu di #AgenPoZentrum tersebut.

Tidak ada disepensasi apapun terhadap tujuh jam lebih telatnya keberangkatan. Pun demikian, orang kecil seperti hampir separuh penumpang #BisLangsung ini bisa apa?




Bis Langsung, Membelah Semarang Jakarta

Setelah habis amarah, akhirnya #BisLangsung New Setra Jetbus 2+ (begitu namanya) yang tidak terpikirkan oleh para penumpang pemesan tiket #Zentrum di #Traveloka melepas tuasnya. Bis itu berjalan berlahan membelah jalanan Majapahit, berputar ke arah kota dan berhenti di Jalan Kalibanteng, dan menaikkan penumpang lainnya, di PO #Zentrum Kalibanteng, Jalan Taman Sri Kuncoro III.

Pukul 23.28 WIB ...
Pukul 23.29 WIB ...
Pukul 23.30 WIB ...

Pukul 23.33 WIB bis masih bersandar di PO #ZentrumKalibanteng, puluhan penumpang dengan wajah capek berharap segera berangkat terjadi lagi. Sama persis wajah-wajah pias penumpang dari PO #Zentrum di Jalan Majapahit yang menunggu sejak pukul 17.00 WIB tadi.

Hingga pukul 23.40, #BisLangsung belum kembali menginjak tuas. Berbagai bis lain yang melaju ke arah Jakarta, sudah melesat bagai peluru. Lampu jalanan mulai redup dan bisingnya kendaraan tak ada habisnya.

Pukul 23.44, #BisLangsung baru mulai tancap gas. Lampu kanopi di dalam bis padam. Petunjuk arah Kendal/Jakarta serasa kue ulang tahun. Di kejauhan, kerlip lampu belakang berbagai mobil di lintasan jalan seperti destinasi rumah pelangi di Randusari, Semarang, angggun dan berkedip-kedip.

Di layar tv, Putri D'academy melantunkan lagu Cinta Berpayung Bulan. Blue Start, Argamas BM09, satu-satu tinggal di belakang. Namun jalanan masih ramai dengan sepeda motor yang lalu lalang di kiri bahu jalan, hantu-hantu kasat mata ini kadang tidak berlampu!

Sesekali, laju #BisLangsung ditingkahi per kiri dan kanan yang berteriak, nyit-nyit katanya sambil menyalip sebuah tronton berbadan panjang.

Pukul 00.00 WIB, papan petunjuk mengarahkan, lurus Jakarta, kanan Terminal Mangkang dan belum ada tanda-tanda #BisLangsung akan menelan jalan tol. Di sebuah papan petunjuk lainnya di sebelah kiri, petunjuk lainnya terpampang agak lebih kasar, lurus Jakarta, kanan Pelabuhan Kendal.

Di jalan yang lebar kiri kanan empat meter ini, ada pula tulisan 'hati-hati traffic light 150 meter' dan #BisLangsung sudah beberapa kali makan jalan rusak. Nyit-nyit per kiri kanan menjerit lagi, aus!

Pukul 00.08 WIB, lampu merah Kaliwugu Boja tertinggal di belakang. Di pertigaan lampu merah Magetan kiri, Jakarta lurus, iklan caleg dan rokok masih kokoh. Bis kami menyalip PO #Zentrum Megatrend yang tadi juga berhenti di PO #ZentrumKalibanteng dan lebih dulu tancap gas.

Pukul 00.09 WIB ...
Pukul 00.10 WIB ...
Pukul 00.11 WIB ...

Pukul 00.19, Billboard Kendal Kota Beribadat terpampang lusuh dan kotor. Sorot lampu #BisLangsung tak bisa dielak papan iklan itu. Di jalanan yang kurang rata ini, ada tulisan SMG 34 KM. Sebuah mobil pribadi H 9342 G berjalan lambat di jalur cepat. Tronton lagi-lagi menguasai jalanan arah Weleri ini.

Di perempatan 'Tol Khusus' Kutosari, #BisLangsung ngacir ambil petunjuk kanan DKI Jakarta - Bandung dan tidak menelam lampu tol di depan mata. Artinya, #BisLangsung ini melewatkan jalur empuk itu.

Di hadapan kami, gas #BisLangsung agak melambat. Kiri kanan jalan hanya ada penanda warna yang menyala tanpa lampu jalanan. Jalan gelap gulita bukan main. Beton-beton rambu pembatas disorot lampu menguning #BisLangsung naik turun bagai gelombang sebab jalanan penuh dengan tambalan. Sejak pukul 00.27, hingga 00.40 baru lampu-lampu berkibar di beberapa titik dan #BisLangsung berhenti di RM. Lumbung Padi, Patebon.

Kencing,
Makan,
Rokok.

Rubiah, sang supir berumur 59 tahun yang mengemudi #BisLangsung berplat Kudus, K 1678 AB, mengaku sudah 30 tahun menjadi supir antar kota antar provinsi. Sempat berhenti dua tahun dan membuka usaha. Namun usahanya tidak berjalan dengan baik. Akhirnya lelaki baja itu banting setir lagi ke pekerjaan awal.

"Mau kerja apa, mas. Macul ga sanggup udah tuwo, yowes sing jalanin saja dadi supir," ujar dia sebelum membenamkan gas dan melesat lagi meninggalkan RM. Lumbung Padi, di perbatasan antara Kendal - Patebon.

Pukul 01.32 #BisLangsung berjalan lambat. Jalanan begitu sepi, dan warung yang menyediakan oleh-oleh sudah lesu dari berbagai yang parkir. Di SPBU 10.2.4.0003, lampu jalanan mulai redup lagi. Sepanjang jalan hanya terlihat lampu-lampu mobil dari dan ke Jakarta.

Di layar ponsel, baterai sudah sisa 29 persen. Power bank sudah lenyap sejak di Kutosari. Begitu pula dengan mata saya. Sayup-sayup lagu dangdut mengajak saya tidur.

Di Gerbang Tol Kandeman, #BisLangsung rupanya tak ngacir lagi. Dia lurus saja masuk dan menancap gas tanpa henti. Gas terlihat berputar di 90-100 KM/Jam. Penumpang menarik selimut. AC dingin dan malam semakin puncak.





Sejak pertama kali beli kartu simpati hingga hari ini, umurnya sudah 3957 hari. Artinya, sudah 10 tahun 841 hari saya memakai kartu tersebut tanpa menggantinya. Banyak pula teman-teman lama yang tetap menghubungi saya di nomor tersebut meskipun kadang ada nomor baru teman-teman yang tidak tersimpan dalam ponsel sebab mereka menghubungi saya dengan nomor lain.

Dengan kata lain, nomor lama ini masih dapat diingat oleh orang lain meskipun yang menghubungi telah beberapa kali mengganti nomor ponsel mereka. Itu nampak seperti bertahan dari berbagai perjalanan hidup. Untuk bertahan 10 tahun rasanya tidak mudah. Tapi kok ya sudah lewat saja 10 tahun itu tanpa di sadari. Artinya, waktu tidak akan berkompromi dengan kita, atau dengan keadaan kita kecuali kita sendiri yang mengubahnya.

Belum lagi bertahan dari berbagai kondisi, terutama dengan begitu banyak promo paket internet yang menggiurkan. Meskipun ada istilah bahwa pemakai kartu Telkomsel itu adalah horang kaya, saya sendiri memaknainya sebagai ajang silaturahmi dengan yang lain, memudahkan teman-teman lama yang ingin berkomunikasi dengan saya.

Pada idul fitri yang mulai ini, banyak pula nomor baru yang masuk menghubungi saya terutama kawan-kawan di Aceh. Meski jauh di Jakarta, saya tetap mengucapkan ribuan terima kasih sebab mereka masih ingat, masih mau menjalin hubungan dengan saya di saat saya sedang dihantam kepercayaan diri yang rendah terhadap apapun.

Saya yakin, silaturahmi itu pula yang akan membawa kita pada harapan, pemikiran dan langkah baru di hari yang baik ini. Dengan begitu, keterpurukan apapun akan kita lewatkan dengan mudah dan tidak gampang menyerah.

Akhirul kalam, saya dengan serendah-rendahnya diri, dengan ikhlas meminta maaf kepada yang pernah saya kecewakan, atau sebaliknya: mengecewakan saya. Minal aidin walfaizin, mohon maaf lahir dan batin. Selama hari raya idul fitri 1440 H.

3957 hari =10,841 tahun.