TULISAN BARU



Dalam 1 bulan ini, tiga kali sudah saya berkesempatan main ke Semarang. Kali pertama hanya untuk hal remeh temeh untuk bertemu dengan seseorang guna memenuhi permintaan kakak di Aceh. Itupun tidak ke Semarang, melainkan ke Weleri. Salah satu daerah yang akhirnya saya tahu bahwa di sana ada rumah industri yang menghasilkan salah satu produk Kompor Bahan Bakar Oli Bekas, boleh dipakai oleh berbagai warung pinggir jalan dan begitu banyak bisa menghemat gas (nanti diulas khusus).

Kali kedua lain lagi. Saya kebetulan dipercaya untuk menjadi sektretaris para dewan juri dalam sebuah helat Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XI 2019. Kali itu, saya hanya menumpang transit di Bandara A. Yani sebelum akhirnya saya dan bareng juri PPN lainnya (Ahmadun Yosi Herfanda, Chavchay Syaifullah dan Kurnia Effendi) dijemput menuju Kudus, tempat rapat sebenarnya dilakukan. Jadi, kenapa saya katakan kali kedua, sebab saya usai kegiatan rapat PPN, saya kembali ke kota ini sendiri: cuma diantar tanpa dijemput lagi sambil memetik satu dua kenangan dengan @adindanenii.

Kali ketiga adalah: baru 1 minggu yang lalu. Selain berkesempatan ngopi di berbagai caffe di Semarang, serta menginap di The Capsule Hotel (tempatnya backpacker), saya juga bertemu dengan salah satu komunitas menulis yang keren banget, yakni IDN Time Community, yang waktu itu sedanf melaksanakan diskusi menulis dengan mengetengahkan "How to Make a GoodContent". Kehadiran komunitas ini tentu kabar baik bagi literasi kita yang surut: orang-orang ingin menulis hanya jadi wacana belaka tanpa benar-benar melaksanakan keinginan tersebut.

Ernia Karina (@jalieur) sebagai Editor & Manager IDN Times Community mengajak semua yang hadir agar serius menggarap bakat kepenulisan yang dimiliki agar mampu menjamin finansial para penulisnya dengan baik. Dengan keseriusan, kata dia, maka seorang penulis akan bisa membentuk karakter kepenulisannya.

Diskusi yang diadakan di Rumah Sasongko Semarang, Sabtu, 9 Maret 2019 lalu itu berlanjut pada esok harinya dengan tagline berbeda. Kali itu acara menjadi lebih semarak sebab agendanya adalah One Day Travel Blogging, salah satu kegiatan perjalanan sejarah perkeretaapian Indonesia. Para anggota komunitas diajak untuk mengenal sejarah perkeretaapian sekaligus menulis momen tersebut di akun IDN Times masing-masing anggota.

Community Writer, Ruth Christian (@ruthchristian) di lokasi finish acara di Tekodeko Koffiehuis, Kota Lama, mengatakan kegiatan ini adalah acara rutin yang diselenggarakan komunitas IDN Times Semarang. "Ini adalah kegiatan rutin yang diadakan komunitas IDN Times Semarang dengan harapan menjaring lebih banyak penulis di kota Semerang," kata dia.

Tentu saja kegiatan ini berguna banget buat siapapun. Tak jauh beda dong dengan manfaat besar karena ketemuan sama dia di Semarang colek (@adindanenii)?






NISHA

Dialah—jika boleh disebut ibu hutan—
rumput liar di tanah basah. Tempat
pohon-pohon menidurkan sebentar
saja kebohongan dalam dirinya. Ia setegar
bahu perantau yang kasab, berkilau dan
ingin mengobati hari yang robek oleh
aroma anyir kehidupan dini hari.

Tapi dia lemah. Meski gunung-gunung
dan pohon sekuat dan secerah matanya.
Dia tetap sepi, jika ada yang hilang
dari kasihnya, dadanya akan berdarah
dan air matanya akan menenggelamkan
seluruh jagat rimba.

Kepada Mowgli, diserahkan sepenuh dirinya.
Dia akan mampu merenangi hidup dan tak
patah dihantam buruk cuaca. Kekuatannya,
bagai kokoh gading gajah dan begitu kuat
seperti karang nun jauh. Doa dari segala
gemeretak dada. Layar kembang puak rimba.

Jakarta, 2019





SEANDAINYA
buat Ahmad

Seandainya tubuhku gelombang Ie Beuna,
ingin kutarik tanganmu dari tragedi itu.
Lalu secara tergesa akan kukabarkan
pada para puak bahwa kau bukanlah
puluh ribu orang yang melawan laut
pada pagi Minggu itu.

Di luar, langit cerah seperti candaan kita
Tapi dari arah laut, gelombang meretakkan
Cita-cita dan membawa hanyut harapanmu,
Hampir seperti desa-desa kita yang saban
Waktu disapu oleh ribuan peluru dari Jakarta.

“Aku ingin jadi Militer,” katamu, suatu hari
Tapi pada hari lain, kau mendadak jadi
Seulanga, dan aku terpacak menunggumu
di hadapan luas laut tak berbatas ini
dengan suara Seurune Kalee yang
meringkik, pedih dan seolah menangis.

Di laut, apakah kau bahagia, Mad?

Jakarta, 2019



Koran Tempo, Sabtu, 23 Februari 2019


Di luar gedung, seorang anak kecil mendengar keributan hatinya. Kata-kata yang berserak itu, membumbung tinggi, pecah pada mikrofon-mikrofon, dinding-dinding, dan jidat-jidat teater.

"Tiket terlalu mahal. Seorang pengemis yang ingin menonton pertunjukkan, terjebak antara dirinya dan keluarga," katanya.

Dari dalam. Anak-anak orang kaya terus menarikan narasi kemiskinan, penuh warna pelangi yang mereka curi dari langit, bahagia dan membara.

"Tapi mereka tak pernah merasakan hal itu. Kemiskinan itu. Mereka telah berbohong," kata anak tadi, basah dengan hujan dalam matanya.



Pidie Jaya

Kubawa namamu dalam setiap derap kaki ini,
ibu yang melahirkan dan kota yang membesarkan.
Meski kau cambuk aku, seolah terusir sekian
jarak waktu, tetap dalam darah ini kau
harum kenanga. Lintas sejarah yang berlayar
di tubuhku. Meski busuk sekalipun,
kau adalah wangi bagi kehidupanku.

Aku terus saja mengingatmu. Merasakan betapa
jauh kau di dekap peluk ini. Sepi dan tergerus
oleh kesendirian. Sendangkan orang-orang
menanak nasi di atas tubuhmu. Tapi kau lapar
dan mencari-cari tempat untuk berteduh
dari banyak kebohongan; rumah gempa,
ladang cokelat yang sekarat, dan waduk jebol
yang belum diselesaikan, tapi para pejabat makin
berpoya-poya ke Jakarta.

Lihatlah. Betapa kurus gunung-gunung kita.
Nelayan menjerit terlilit mesin bot yang mati.
Petani kehabisan nasi di lumbung padi dan
toke-toke berpesta setiap minggu ke Medan.
Membawa jerih payah kita. Setiap minggu,
warung-warung kita kosong. Sebab rumah-
rumah pegawai ada di kabupaten lain.
Tempat yang membuat tubuh kita gigil dan meriang.

Lihatlah lapangan Kota Meuredu.
Kurus dan kering begini.
Sedang pejabat sehat dan muda.

JAKARTA, 2018





Pulang ke Masa Kecil

Di gerbang dadamu,
senja sedang mengamuk.
Kesedihanmu bangkit dari
wajah masa kecil. Buram
dan begitu patah. Kadang,
kau ingin pulang ke masa
kecilmu itu. Kampung halaman
di mana kekecewaan tak punya
harapan untuk tumbuh dalam
dadamu yang bau pagi.

Kau tak pernah berkhayal,
bahwa air terjun rindu telah
membuatmu begitu tenggelam
ke dasarnya. Kau saat ini sering
dibangunkan oleh kicauan rumput
di belakang rumah. Di mana orang-
orang dari jauh mengusir dingin
dengan kayu bakar kekhawatiran.

Kau memang takut. Tapi bisa
Kauhapus dalam beberapa tahun kemudian.
Kecuali kekecewaan yang menjalar di
tubuhmu saat ini; begitu tajam dan dengan
secara kasar seolah mengatakan,
kau lebih baik menorehkan pisau
ke leher sendiri. Sebab sudah
tak lagi dirindukan.

Kesiur angin membaca
kekecewaanmu. Maka dia terus
menamparmu dengan kabar-kabar
baik. Bahwa, kata dia, hidup
adalah guguran daun. Siapa saja bisa
terhempas ke tanah. Layu dan
terabaikan. Tapi, dia melanjutkan,
setelah kau berhasil memerangi dirimu
sendiri, mengapa kalah hanya dengan
sebuah kekecewaan?

Kau pun tertawa, dan, sedetik
kemudian, kau melumat semua
nyeri itu dengan meninggalkan
kekecewaanmu. Persis seperti
gugur daun;tapi kau tak terhempas
ke tanah, namun ke langit. Biru dan
begitu laut seperti luas dadamu. Dan
kau pun berlayar ke muara
masa depan.

JAKARTA, 2018




Bagaimana pun, puisi selalu menjadi ruang kesunyian bagi seseorang untuk menceritakan dirinya, hidup, kesukaan, bahkan hingga kebencian sekalipun. Puisi, meski masih ruang kecil dan pengap dalam kesusasteraan saat ini, ia tetap menjadi jembatan yang tak pernah terputus antara kata dan penciptanya. Ia akan selalu biak menyampaikan berbagai macam persoalan kehidupan orang lain, bahkan kehidupan penulisnya sendiri.

Saya selalu menjadi orang yang terkejut saat menemukan hal-hal baru, penyampaian yang segar, dan celoteh liar dari segenap puisi yang ditulis. Sebab, saya selalu kalah menetapkan diri, mengurusi kata, hingga membuat pembaca setidaknya mengatakan, bagaimana bisa ide ini terlintas? Saya akui, saya masih jauh dari panggang.

Pun begitu, saya banyak belajar dari berbagai puisi yang hadir ke tengah diri saya. Saya selalu mencoba mengakrabkan diri, meski kadang banyak sekali puisi saat ini hadir ke tengah-tengah kita yang secara tidak sadar telah menjadi bumerang, yang bila diperkenankan mengambil apa yang dikatakan Rendra dalam bait kedelapan Puisi Sebatang Lisong, itulah yang berulang lagi.

Jadi, pantas saja hingga saat ini puisi mendapatkan posisi ‘anak tiri’ dari masyarakat. Baik itu dari kalangan terpadang, akademisi, hingga penarik becak sekalipun. Puisi masih menjadi barang yang tak mampu merubah sesuatu ke arah lebih baik, dibandingkan puisi-puisi sekelas Chairil Anwar dan WS Rendra sendiri, yang terus berperang dengan wawasan-wawasan kemajuan.

Sewaktu seorang teman meminta saya, atau lebih tepatnya menanyakan, apakah menurutmu puisiku layak? Maka yang terlintas dalam pikiran ini adalah: kau sadar, tidak? Aku banyak sekali belajar dari puisimu. Ya, itu adalah jawaban klise sebenarnya. Tidak ada hubungan antara pembelajaran yang dapat dengan bagaimana pendapatku sendiri terhadap puisi yang bergerombol ditulis dan diproduksi hari ke hari.

Maka, apa yang kemudian menjadi jawaban adalah: Puisi selalu melaju dari kekuatan kognitif seseorang dalam melihat, merasakan, bahkan mendapatkan dampak bagi dirinya sendiri. Hal itu pula mendorong daya faktual dalam dirinya–lintasan bahasa—dan kemudian terbentuklah puisi-puisi dari berbagai frame yang majemuk—mungkin dipengaruhi pula oleh empiris seseorang—yang sedang dihadapinya. Misalnya, dari lelahnya perjalanan dari dan ke satu tempat untuk kepentingan besar kehidupan—keluarga—dan dirinya sendiri.

Hal itu juga tak dapat dipisahkan dari seseorang, bahwa ada semacam kilas balik dari dirinya yang kemudian membentuk bahasa lebih ketat dan lugas untuk menyampaikan pemikiran-pemikirannya dalam puisi. Dan hanya mereka yang telah lama berkecimpung dalam dunia katalah, akan mendapatkan porsi lebih dominan menemukan sekelimut bahasa—terlihat dari cara penyampaiannya puisinya—yang terus diasah dan diperebutkan dalam kepalanya.

Hingga kini, tiori bahwa bahasa adalah sesuatu yang privat bagi seseorang itu benar adanya. Ia tak akan meluncur begitu saja bila apa yang menjadi rahasia puisi dengan gamblang dapat diterjemahkan begitu saja, tanpa perlu merenungi isi puisi, lalu membaca kata perkata, hingga akhirnya mencapai pada kesimpulan yang absolut.

Tapi bagaimana pun privatnya bahasa, sebuah tafsir puisi akan melangkah dengan kesendirian. Tafsir bisa datang dari berbagai bentuk, berbagai cara dan sudut pandang; esai itu ditulis atas dasar bahwa seseorang ingin menulis dan terlepas dari segala bentuk tiori yang menyertainya, begitulah uangkapan yang mungkin dapat saya petik dari tulisan Arif Budiman, berjudul Esai tentang Esai yang terbit di Sinar Harapan, tahun 1982.

Oleh karena itu, saya mau membebaskan diri dari sekelumit hal-hal berat dalam memberi artian pada puisi-puisi. Sebab, kita saat ini butuh hal sederhana, meskipun kita menulis tentang diri sendiri, tapi memberikan efek  kepada orang lain, itu adalah sebuah pencapaian yang kongkrit atas perjuangan bahasa yang telah kita ciptakan.

Maka, saya menjawab, apa yang menjadi kegelisahan teman saya, bahwa, puisi-puisinya adalah mesin waktu, sebuah lensa untuk melihat diri sendiri, Jakarta, dan kelakukan masyarakat modern saat ini, yang tak sabaran, ingin memaki, dan lain sebagainya. Puisi-puisinya, yang kemudian dia beri judul misalnya Stasiun Manggarai, atau, Stasiun Juanda, adalah fragmen kehidupan yang saat ini kita lihat dari sudut privat seorang penulis puisi itu sendiri, Pringadi Abdi Surya.

Jadi, apa yang ditulis Pringadi, adalah bahan renungan, bahwa apakah kita juga menjadi binatang perempuan kita di rumah, bintang perusahaan, atau binatang nasfsu bagi diri kita sendiri. Untuk menjawab itu, kita patut membaca puisi-puisinya, di sini: Stasiun Juanda, dan Stasiun Manggarai sebagai bentuk bahwa apa yang terjadi pada kita, rupanya tak jauh beda yang dirasakan orang lain. Sama-sama merasakan hal sama, meski cara mengalaminya berbeda-beda.

Pring, puisi-puisinya lebih dari kata layak, lebih baik dari puisi-puisiku sendiri, luka-lukaku sendiri.



Sejumlah Pematung dari Jakarta dan Bandung menggelar Pameran Seni Patung Instalasi Karya Pematung Jakarta dan Bandung di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, Selasa 11 Desember 2018.
Acara yang dibuka oleh salah satu kurator sekaligus budayawan, Jim Supangkat Silaen itu menghadirkan 11 pematung antara lain, Agus Widodo, Alce Ully Panjaitan, Awan P Simatupang, Benny Ronald Tahalele, Bernauli Pulungan, Budi L. Tobing, Hardiman Radjab, Slamet Abidin, Teddy Murdianto, Yana W. Sucipto, dan Yeni M. Sastranegara.
Acara tersebut berlangsung sejak pukul 10.00 hingga 21.00 WIB. Selain menampilkan karya pematung, acara ini juga dihibur oleh grup musik Kelompok 12 Pas.
Selain itu, ada pula pembacaan puisi oleh @Edrida Pulungan dengan judul Merayakan Waktu.










Foto by: Pilo Poly


COT KE'ENG, 1991

di Cot Ke'eng, suara senin
meringkik dan deras, jatuh bagai
dini hari yang mendung

kau teringat wajah anakmu,
kecil dan imut, tapi kini
harus belajar tanpa ayah

di jalan-jalan, serdadu
sedang menertawakan
kampung halaman kita,
ujarmu

sesekali, mereka suka
jika suara bedil diledakkan
dalam mulut: lalu berdalih
pemberontakan

di luar, aroma pagi bau
seorang wanita bertubuh
merah, anyir dan memuakkan.
Sebab mengirim negara untuk
membunuh ayahnya sendiri.

seorang perempuan, kemudian melilitkan
kepalanya dengan hari yang putih. hari
yang seharusnya tumbuh dan
membesar; bukan dengan
dar der dor lalu ada
yang mati, lagi dan lagi.

di Cot Ke'eng, setiap hari
bendera kuning
ditancapkan dalam mata kami

JAKARTA, 2018


DI POS JAGA

Mereka datang setiap senin,
ketika luka kami masih dingin,
dan ketika semua lampu ketakutan
untuk menyala.

mereka datang dari berbagai
ibu dan bahasa. mata mereka
seterang jalan-
jalan kota, tapi membawa perangai
lanun dari laut. saat datang,
wajah mereka bagai november
yang basah, penuh dengan
hujan kengerian.

mereka datang sambil tersenyum,
sambil melemparkan gedebuk
di dada dan pinggang. sebab
setelah jerit bambu di ketuk,
belum juga ada laporan senin lalu; apakah gerak-gerik hutan
sudah dapat dibaca?

Senin berikutnya lagi,
pos jaga itu gemetar berkali-kali:

sebuah jam merasa murung pada jarum yang berputar. seperti
tak pernah tahu ada
kini yang tak pernah hadir
di masa lalu.

dan subuh, dan jam, seolah ingin
kembali ke ruang hampa, ke hutan
padat yang dulu bergerombol
di sini, sebelum kayu di tebang
dan dusun tumbuh di mana-mana.

subuh itu, sebutir peluru
menidurkan seorang lelaki, pulas
dan bagai tersenyum seolah berkata; oh Tuhan, kutitipkan anakku padaMu

JAKARTA, 201


KEKASIHKU

kurenungi wajahmu sedalam
sujud dan doa ini, sayang.
meski dalam dadamu
nama lain tumbuh
dan subur, hijau
seperti gunung
dan biru
seperti
laut.

kurawi juga namamu sejauh
perjalanan ini, kekasihku.
sebab hanya cara
itu yang kupunya,
kiat hentikan
ribuan perang
di lekuk
rantau
ini.

aku selalu tetap
mencarimu,
dalam diriku, sayang
meski juga tahu
kau ada di jendela,
tengah berbicara dengan
yang lain. sedang kehadiranku
hanyalah kamus, tempat
kata-katamu perlu dibenarkan.

aku padam, sayang.
tapi kau terus saja nyala
dalam
diri ini. menggebu
dan deras; persis hujan dalam
diriku.

terkadang aku ingin melupakan
semuanya, sayang. kecuali
kenangan yang tumbuh
bagai deretan rumah dalam
dada ini, menjalar ke urat
nadi seperti rindu sungai pada
perahu yang pulang dari kuala.

betapa berat memikul
namamu di pundak ini,
cintaku. setiap malam
rasanya tersesat di
dalam suaramu. kemudian
mabuk karena melihat kau
bagai terangnya mata pagi.

aku ingin kau membenciku saja,
sayang. agar aku dapat tidur
pulas dalam diriku sendiri.
sambil bermain dan bernyanyi di dalamnya. kemudian terjaga tanpa
pernah tahu kau ada di dalam
ribuan diriku, rinduku, dan
harapanku.

JAKARTA, 2018


PERGILAH

Aku tak menyangka, kau pergi dengan
luka seberat rantauku sendiri. betapapun
sudah begitu kuat cinta ini bagai
kebahagiaanku sendiri.

Masih segar wajahmu di teras bidang dada ini. Seperti aroma kerinduan yang singgah di pelabuhan, berharap pemudik
tak pulang dengan sia-sia.

Laut begitu tertib, sayang. Ombaknya
mengirimkan sinyal gigil ke tubuhmu. Sesekali dia meraung sederas hujan
memandikan hutan-hutan. Lalu kata-kata
mulai membentuk diri seterang matamu.

Ah. Seandainya kau tinggal lebih lama. Ingin kurantau seluruh jiwamu. Ingin kuobati seluruh riak sungai dalam matamu.

Ah!

JAKARTA, 2018


HANYA DENGAN MENCINTAIMU

Hanya dengan mencintaimu Tuhan,
aku tidak perlu duit, rumah mewah dan
mobil bagus.

Aku bisa kapan saja masuk kedalam rumahmu, meskipun aku datang dengan sendal jepit, dan badan penuh keringat.

Hanya dengan mencintaimu saja, Tuhan
aku merasa cintaku terbalas, lebih dari
yang kuinginkan dan harapkan.

Hanya dengam mencintaimu, Tuhan.
Maka cinta seberat apapun akan dapat kuarungi meski ombak badai menghantam.

JAKARTA, 2018


Terbit di Riau Pos, 9 Desember 2018